Menjadi ASN barangkali zona yang aman dan nyaman bagi banyak orang. Akan tetapi, sosok muda ini berani mengambil keputusan besar, dan dengan keteguhan hati, membuktikannya sebagai pilihan yang benar.
Masih terhitung muda, tetapi sudah mulai menapak ke puncak. Orang mungkin akan tergesa menyimpulkan bahwa jalan hidup terhampar mudah baginya. Nyatanya, dia telah menempuh jalan panjangnya berkelok: Long and winding road, kalau kata The Beatles. dari seorang anak kampung yang mengumpulkan biji kakao dan pinang, hingga menjadi tokoh muda yang kini diperhitungkan di dunia agribisnis, pendidikan, dan politik Sumatera Utara.
Dia lahir dan tumbuh di lingkungan yang akrab dengan denyut perkebunan. Masa kecilnya bukan hanya diisi sekolah, tetapi juga praktik ekonomi sederhana: membeli, menjemur, dan menjual hasil bumi. Dari sana, ia belajar satu hal yang kelak menjadi fondasi hidupnya: nilai kerja tidak ditentukan oleh besar kecilnya usaha, tetapi oleh konsistensi dan keberanian mengambil peluang.
Pilihan masuk ke sekolah kehutanan hingga menjadi aparatur sipil negara (ASN) sempat menjadi jalan yang menjanjikan "kepastian kehidupan". Namun, justru di titik itu, ia membuat keputusan yang tidak lazim: melepaskan status ASN pada 2005 demi menekuni dunia pertanian secara utuh.
Keputusan tersebut bukan tanpa risiko, tetapi di situlah karakter Darma Putra Rangkuti menemukan bentuknya. Ia membangun usaha pembibitan dan agribisnis dari nol, menggandeng petani dan anak-anak muda, bukan sekadar sebagai mitra, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang ia rancang.
Di bawah bendera usaha yang ia dirikan, bibit tanaman dari Sumatera Utara menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Lebih dari itu, ia tidak berhenti pada bisnis. Ia turun langsung ke lapangan, menjadi instruktur, bahkan menyediakan akses permodalan bagi petani. Sebuah pendekatan yang tidak lazim: menggabungkan kewirausahaan dengan pemberdayaan.
Prestasinya bahkan mendapat pengakuan nasional melalui penghargaan Youngpreneur Inspirator dari Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Perkebunan.
Menariknya, dengan kerendahan hati, Darma Putra justru menolak label "sukses" untuk dirinya sendiri. Baginya, tolok ukur keberhasilan bukanlah capaian pribadi, melainkan kemampuan menciptakan lebih banyak orang yang berhasil. Sebuah definisi yang sederhana, tetapi sarat makna dan jarang dipegang secara konsisten.
"Kalau kita belum bisa mengajak dan mengangkat orang-orang di sekeliling kita, minimal itu dulu, untuk sama-sama mencapai peningkatan taraf kehidupan, saya kira itu masih jauh dari definisi sukses, sekalipun kehidupan kita pribadi secara ekonomi, katakanlah sudah baik," ujarnya dalam sebuah perbincangan santai sembari makan siang beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, perjalanan intelektualnya berjalan seiring dengan praktik lapangan. Ia menempuh pendidikan hingga tingkat magister agribisnis, dan kini melanjutkan studi doktoral di bidang yang sama. Baginya, ilmu bukan sekadar legitimasi akademik, tetapi alat untuk memperkuat dampak. Ia melihat pertanian bukan sebagai sektor tradisional yang stagnan, melainkan ruang masa depan yang membutuhkan inovasi, kolaborasi, dan kebijakan yang tepat.
Editor
: Salamuddin Tandang