POSMETRO MEDAN- Lukman Leong,Analis mata uang Doo Financial Futures merespons nilai tukar Rupiah yang melemah pascameningkatnya prospek kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Nilai tukar Rupiah, kataLukman Leong, seperti diberitakan Antara diperkirakan Jumat, 19 Juni 2026, melemah terhadap dolar AS yang diprediksi masih kembali menguat.
Penguatan nilai tukar Rupiah ini, kata dia, dipengaruhi meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed pasca FOMC.
Dia menyebut, prospek itu muncul lantaran inflasi AS saat ini berada di angka 4,2 persen, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.
Seperti diberitakan POSMETRO MEDAN sebelumnya, nilai tukar rupiah pada Jumat 19 Juni 2026 sesi pagi bergerak melemah 51 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.845 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.794 per dolar AS.
Sementara itu Kevin Warsh selakuKetua The Fed menyampaikan komitmennya untuk mencapai target stabilitas harga 2 persen.
Apakah The Fed dapat mempertimbangkan kembali target inflasi 2 persen? Ditanya begitu Warsh menyampaikan level ini tujuan jangka panjang bank sentral dan tak boleh ditinjau kembali sebelum The Fed kembali mampu mewujudkannya.
Selain itu, indeks dolar AS disebut mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir.
Kekhawatiran apabila pasokan minyak mentah dunia masih belum akan pulih akibat perang turut mendukung dolar AS, kendati kesepakatan damai tahap pertama antara Amerika dengan Iran ikut mendukung penguatan nilai tukar Rupiah.***