POSMETRO MEDAN,Mengungkap realitas tak kasat mata di balik sesuatu yang biasa-biasa saja hingga menjadi luar biasa.
Demikian misi kerja kolaborasi jurnalis dan seniman. Jurnalisme memang setara kiprah seni merekam zaman. Tapi minus itu, ia adalah alat peradaban masyarakat dengan kwartet fungsi.
Di antaranya, untuk 'menggonggongi' sinyal bahaya.
Dalam kaidah Pers, menggonggong dimaknai sebagai sikap kritis. Lazimnya anjing penjaga yang galak, jurnalisme idem dito. Ia 'menggonggongi' temuan penyimpangan. Pun ketidakadilan yang merugikan publik.
Dan bersama fungsi menguatkan nalar publik, kehadiran jurnalisme sudah seperti 'oksigen' dalam hidup bernegara.
Tanpa jurnalisme yang 'menggonggong' alias kritis, niscaya dunia penuh malapetaka. Problem besar atau bahkan krisis kehidupan akan berlangsung secara langgeng.
Karena peran watchdog itulah, SDM jurnalis yang menyebarkan berita bukan hasil 'copy paste' isi rilis tanpa data pembanding menjadi prasyarat tegaknya sistem demokrasi.
Tugas kaum 'mata - telinga publik' sejatinya membongkar nilai-nilai kemanusiaan yang tersembunyi di balik peristiwa kasat mata. Bukan semata mencatat kejadian secara mata telanjang.
Itulah hakikat jurnalis tak pernah kehilangan fungsi kontrol. Lalu bagaimana seniman?
Seniman adalah makhluk yang ditakdirkan memiliki kemampuan ekspresi tak biasa. Pun daya imajinatifnya.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u261987868/domains/posmetromedan.id/public_html/amp/detail.php on line
259