POSMETRO MEDAN
Dalam praktik kepemimpinan, penghargaan paling bermakna bukan berupa pujian di podium. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sahih: sebuah kunjungan yang diputuskan dengan saksama, cermin kepercayaan yang diperlihatkan dengan benderang.
Itulah yang terbaca dari langkah Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto, SIK, SH, MSi, kepada Polda Sumatera Utara, dan terhadap sosok yang kini memimpinnya, Irjen Pol Sonny Irawan, SIK, MH.
Sumut menjadi salah satu daerah pertama yang dikunjungi Kapolri Suyudi sejak ia dilantik. Sumut bahkan menjadi tempat pertama ia merilis kasus berskala besar: penyelundupan 1,16 ton ketamin hidroklorida di perairan Tanjung Balai Asahan.
Dalam tradisi kepemimpinan, urutan semacam ini bukan kebetulan administratif. Seorang pemegang komando tertinggi memilih tempat pertamanya berdasarkan keyakinan, dan keyakinan itu tumbuh dari rekam jejak.
Rekam jejak itulah yang menjelaskan siapa sosok Sonny Irawan. Ia bukan wajah baru yang datang membawa peta kosong. Sebelum menakhodai Polda Sumut, ia lebih dulu mengabdi sebagai Wakapolda. Dari kursi itu ia mengamati, mencatat, dan memetakan.
Ia membaca denyut sebuah provinsi yang luas, majemuk, dan sarat dinamika, dari hiruk-pikuk Medan hingga lengang pesisir Selat Malaka. Lazimnya, wakil adalah orang yang paling akrab dengan seluk-beluk rumah yang kelak ia pimpin.
Sonny tampaknya memanfaatkan masa itu dengan baik. Ketika amanah pucuk pimpinan kemudian jatuh ke tangannya, ia tidak perlu belajar dari nol. Ia tinggal menggerakkan apa yang sudah dipahaminya.