POSMETRO MEDAN, Medan - Diskusi Kebudayaan di bulan September 2026 mengambil topik Pengetahuan tentang Diri dalam Pandangan Filsafat Timur dan Barat, yang dilaksanakan Sabtu, 19 September 2026. Acara yang digelar secara gratis dan terbuka untuk umum ini bertempat di Kantor Yayasan BITRA Indonesia, Jalan Bahagia By Pass No. 11/35, Kota Medan.
Diskusi interaktif dipandu Dini Usman selaku moderator, dan Wenny Eliza sebagai Master of Ceremony (MC). Menghadirkan Jaenal Abidin S.Sos, MA, Ph.D., dosen FISIP USU sebagai pemantik yang mencoba mengupas di tahap awal komparasi konsep pengetahuan diri (self-knowledge) dari kacamata rasionalis Barat dan tradisi filosofis Timur.
Dalam paparannya, self-knowledge merupakan gagasan universal bagi para filsuf di dunia. Dari tradisi Barat, konsep ini berakar dari pepatah di Kuil Apollo, Yunani, yakni Gnothi Seauton (kenali dirimu sendiri), yang kemudian diadopsi oleh Sokrates hingga Plato. Plato memandang pengetahuan diri sebagai upaya mengenali jiwa yang asalnya dari dunia ide. Sementara tokoh seperti Santo Agustinus dalam Confessions mendengungkan adagium "Noverim me, noverim te" (Semoga aku mengenal diriku, semoga aku mengenal-Mu). Konsep keotentikan diri juga disuarakan di era modern oleh Nietzsche melalui semboyan "Become who you are" (Jadilah dirimu sendiri).
Jaenal mengkritik narasi dominan yang seolah mengklaim filsafat diciptakan secara eksklusif oleh bangsa Yunani. Ia memaparkan bahwa para pemikir Yunani, seperti Pythagoras, banyak belajar dari peradaban Mesopotamia dan pendeta-pendeta Zoroaster (Magi). Jauh sebelum itu, tradisi Timur di Tiongkok dan India telah membahas metafisika dan pengenalan diri secara mendalam. Ia mengutip kearifan Laozi dalam Tao Te Ching: "Mengenal orang lain adalah kecerdasan; mengetahui diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati". Begitu pula dengan literatur Upanishad kuno yang melahirkan konsep Tat Tvam Asi (Engkau adalah Itu).
Diskusi memanas ketika Jaenal membenturkan kebuntuan pemikir Barat dengan solusi epistemologis Timur. Ia mencontohkan pandangan David Hume pada tahun 1739 yang mereduksi "diri" hanya sebagai bundle of perceptions (kumpulan persepsi). Pandangan skeptik ini, menurut Jaenal, telah dipatahkan oleh filsuf Islam Murthada Muthahari yang berargumen logis: persepsi tidak bisa ada tanpa adanya subjek yang mempersepsikan. Mengutip Muthahari, Jaenal menjelaskan, "Jika benar hanya ada persepsi, maka tidak akan ada kesatuan pengalaman".
Teori Michel Foucault yang menyebut diri bukanlah esensi, melainkan subjek yang dibentuk oleh relasi kekuasaan atau institusi sosial. Terhadap hal ini, tradisi filsafat India (Advaita Vedanta) memberikan pisau analisis yang tajam: Foucault dianggap hanya menganalisis Ahamkara (ego bentukan masyarakat), namun gagal melihat eksistensi Atman (diri sejati) yang melampaui konstruksi tersebut. "Ia menganalisis gelombang dan menyimpulkan tidak ada laut," tulis Jaenal dalam materinya.
Di penghujung acara, Jaenal menepis kekeliruan umum yang menganggap filsafat Timur hanyalah mistisisme tanpa rasionalitas. Ia menyampaikan metode dialektika ontologis dari Mulla Sadra (Harakah jawhariyyah), di mana jiwa dikaji melalui tesis, antitesis, dan sintesis pergerakannya menuju kesempurnaan. Ada pula metode Neti Neti (bukan ini, bukan itu) dalam Vedanta, serta metode Sunyata dari Nagarjuna. Nagarjuna sendiri tercatat dalam sejarah pernah berguru pada tokoh asal Jambi, Dharmakirti, membuktikan bahwa Nusantara sejak abad lampau juga menjadi pusat dialektika filsafat kelas dunia.
Paparan itu memantik berbagai reaksi dari para peserta yang hadir. Ada yang mencoba menawarkan gagasan lain, ada yang coba memperjelasnya dan sebagian yang lain mencoba memahami istila-istilah yang begitu jarang didengar oleh masyarakat awam. Diskusi inis angat menarik dan memantik rasa ingin tahu peserta yang hadir. Ada gagasan akan membuka kelas filasafat yang dapat diikuti oleh masyarakat luas yang tertarik namun dengan satu komitmen khusus. Semoga upaya ini akan membuahkan hasil. (drm)