POSMETRO MEDANmemperingati anniversary perak. Seperti kemilau dan daya tahan logam mulia, media pelopor jurnalisme pop ini eksis seperempat abad menjadi corong informasi untuk Sumatera Utara. Inilah cukilan sejarahnya.
Catatan : Faisal Matondang
POSMETRO MEDAN adalah sejarah monster koran. Buah pikir dan kerja sekelompok wartawan 'out of the box'. Syaiful Ishak, salah satunya.
"Kalau naga muncul dan mencabik-cabik kapal ini, bagaimana pun caranya kita jangan sampai terluka parah, apalagi mati. Kita harus selamat agar bisa melaporkan berita besar itu," jokes Syaiful Ishak, dari geladak KM Kelud, suatu hari pada tahun 2001.
Saat itu saya dan dia sekapal dalam pelayaran dari Tanjung Priok ke Belawan. Dan, potongan canda menggambarkan jiwa kewartawanan itu dilemparnya sekitar empat bulan jelang dia menjadi pemred pertama POSMETRO MEDAN.
"Ya, mau buat harian yang tak biasa. Coraknya, koran kriminal," akunya, buka kartu soal formula media anak usaha Jawa Pos di Sumatera Utara.
Omongan itu akhirnya terbukti. Bikin koran tak biasa, di antaranya terbukti lewat harga dan masa edar. Harian pagi dengan price list seceng ini digeber beredar sejak jam 11 malam. Bahkan sempat tetap terbit 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri.
Publik terperangah. Apalagi saat melihat 'barangnya'.