POSMETRO MEDAN, Batam-Suasana sidang di Pengadilan NegeriBatam mendadak histeris setelah Jaksa Penuntut Umum menuntut hukuman mati terhadap enam terdakwa penyelundupan hampir 2 ton sabu, Kamis (05/02/2026).
Salah satu terdakwa, Fandi Ramadan, menangis tersedu dan berteriak, "Hukum di Indonesia tidak adil! Adil… hukum di Indonesia tidak adil!"
Drama haru berlanjut ketika ibunda Fandi histeris hingga jatuh terduduk sambil berteriak, "Ya Allah… Anakku tidak bersalah, Ya Allah!" Sebelum dibawa ke mobil tahanan, Fandi sempat bersujud dan memeluk kaki ibunya.
Pengadilan NegeriBatam mengambil langkah tegas. Kejaksaan Negeri Batam, Kamis, 5 Februari 2026, secara resmi menuntut hukuman mati bagi enam tersangka dalam kasus penyelundupan hampir dua ton sabu.
Tuntutan maksimal itu diajukan terhadap empat Warga Negara Indonesia (WNI) dan dua Warga Negara Thailand. Mereka didakwa terlibat dalam jaringan sindikat narkoba internasional yang beroperasi antara Thailand dan Indonesia.
Sidang tuntutan dipimpin Ketua Majelis Hakim Tiwik. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Gusti Rio Muhamad menyatakan seluruh unsur dakwaan primer telah terbukti secara sah.
Pembuktian itu didasarkan pada keterangan saksi, ahli digital forensik, dan hasil uji laboratorium yang menyatakan barang bukti positif metamfetamina.
"Kami meminta Majelis Hakim menjatuhkan pidana mati kepada para terdakwa," tegas Gusti Rio dalam amar tuntutannya.
Para terdakwa yang dituntut mati adalah:
Werapat Pongwan (WN Thailand): Anggota sindikat yang mengoordinasi logistik lintas batas.