POSMETRO MEDAN– Aksi arogan yang diduga dilakukan oleh seorang oknum aparat penegak hukum kembali mencoreng wajah institusi. Seorang pria yang disebut-sebut sebagai oknum jaksa dilaporkan melakukan pengancaman menggunakan senjata api di kawasan Jalan Sisingamangaraja KM 8, Kelurahan Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan.
Peristiwa mencekam tersebut terjadi pada Minggu (15/3/2026) sekitar pukul 17.55 WIB di area pergudangan Amplas Ware House. Laporan resmi telah dilayangkan oleh korban, Tri Ariyanta Ginting, ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumatera Utara dengan nomor: STPLP/B/443/III/2026/SPKT/Polda Sumut.
Berdasarkan keterangan dalam laporan, insiden bermula saat seorang perempuan berinisial SRG alias Kidu mendatangi lokasi gudang milik korban. Tanpa alasan yang jelas, ia langsung membuat keributan dengan meluapkan emosi kepada para pekerja dan petugas keamanan.
Tak hanya melontarkan kata-kata kasar, SRG juga diduga bertindak anarkis dengan melempar gelas serta merusak sepeda motor yang terparkir di area tersebut. Aksi itu sontak memicu ketegangan di lingkungan pergudangan.
Situasi semakin memanas ketika SRG menghubungi seorang pria berinisial EMN yang diduga merupakan pasangannya. Dalam komunikasi tersebut, SRG meminta EMN datang ke lokasi sambil melontarkan kalimat bernada provokatif.
Sekitar 10 hingga 15 menit kemudian, EMN tiba dengan kondisi emosi tinggi. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengamuk dan diduga mengeluarkan senjata api dari dalam tasnya.
Dalam suasana penuh ketakutan, senjata api tersebut kemudian diarahkan ke seorang petugas keamanan yang sedang berjaga. Tidak berhenti di situ, pelaku juga diduga melontarkan ancaman serius dengan menyatakan akan menghabisi nyawa korban.
Merasa dalam bahaya, petugas keamanan tersebut terpaksa bersikap tenang dan berpura-pura mengikuti perintah pelaku guna meredam situasi. Sementara itu, para saksi yang berada di lokasi mengalami ketakutan luar biasa akibat aksi koboi yang terjadi secara terbuka.
"Ini sangat meresahkan. Senjata api bukan untuk menakut-nakuti masyarakat," ujar salah seorang sumber di lokasi yang meminta identitasnya dirahasiakan.