POSMETRO MEDAN,SIANG itu, wartawan Posmetro Medan baru saja pulang dari luar kota. Kebetulan taksi yang ditumpangi juga mengaku merangkap sebagai taksi online.
"Ya beginilah bang, hidup di Kota besar harus pandai-pandai. Kalau ada sewa ke luar kota ya kita tampung matikan aplikasi. Kalau tidak yang biasa taksi online," kata sopir berbadan gempal itu.
Sambil tersenyum, pria berdarah Batak itu pun cerita pengalamannya soal membawa penumpang. Menurutnya, pengalaman yang paling enak itu membawa sewa cewek Open Booking Online (Open BO), wanita panggilan atau cewek panggilan, yang merupakan sebutan untuk pekerja seks.
Lho kenapa begitu? Menurutnya, di samping ongkosnya lebih, kalau sudah kenal dekat cewek Open BO juga jadi pelanggan tetap dan jadi penghasilan tetap setiap malamnya.
Hanya saja, kata sopir itu, kapan saja dipanggilnya harus siap antar jemput tak perduli jam berapa.
Sambil tersipu sipu malu, sang sopir pun bercerita pengalamannya wara wiri membawa penumpang cewek open BO yang kebanyakan masih Gen Z itu. Biasanya, katanya, mereka dijemput ke kostnya, lalu diantar ke hotel.
"Biasanya kita disuruh cari penumpang dulu, sebelum diteleponnya," kata pria yang mudah senyum itu.
Rata-rata mereka masih muda muda dan ada juga etnis Tionghoa. Tapi, katanya, biasanya kalau cewek Tionghoa ini tak banyak cakap kalau di dalam taksi meskipun bersama teman-temannya.
"Rata-rata cewek Tionghoa ini cuma ingin happy happy alias cari brondong bukan untuk mencari nafkah," katanya.
Berbeda dengan cewek lokal, biasanya mereka lebih banyak terbuka dan sering curhat dengan temannya sesamanya, apalagi soal tamu yang baru saja mendapat layanan seks sesaat dari cewek itu.