POSMETRO MEDAN, Medan - Ramadhan selalu datang membawa harapan baru. Bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang bagaimana hati belajar lebih jernih, lebih lembut, dan lebih terarah.Namun kenyataannya,tidak semua orang otomatis merasa tenang di bulan ini. Rutinitas tetap berjalan, pekerjaan tetap menumpuk, urusan keluarga tetap membutuhkan perhatian. Tanpa sikap yang tepat, Ramadan bisa terasa melelahkan secara emosional.
Ketenangan hati bukan hadiah yang turun begitu saja. Ia lahir dari pilihan sikap yang dilatih setiap hari. Berikut lima sikap sederhana yang bisa membuat Ramadan terasa lebih damai dan bermakna.
1.Memperlambat Diri, Tidak Terburu-buru
Salah satu sumber kegelisahan adalah kebiasaan hidup yang terlalu cepat. Ingin semuanya selesai, ingin ibadah sempurna, ingin produktif tanpa jeda. Padahal Ramadan justru mengajarkan ritme yang lebih tenang.
Memperlambat diri bukan berarti menjadi malas. Ini tentang memberi ruang agar setiap aktivitas dilakukan dengan sadar. Saat sahur, benar-benar hadir menikmati momen. Saat bekerja, fokus pada satu tugas tanpa terus-menerus memikirkan hal lain. Saat berbuka, tidak perlu berlebihan.
Banyak orang merasa gelisah karena pikirannya terus melompat ke depan. Padahal ketenangan lahir ketika perhatian kembali ke saat ini. Ramadan adalah kesempatan melatih kesadaran itu.
Cobalah mengurangi kebiasaan multitasking yang tidak perlu. Kurangi scrolling tanpa arah. Beri waktu jeda setelah salat untuk duduk tenang beberapa menit. Ritme yang lebih pelan sering kali membuat hati jauh lebih stabil.
2.Menjaga Lisan dan Reaksi Emosi
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan reaksi yang berlebihan. Emosi bisa lebih sensitif ketika tubuh sedang lelah atau kurang energi. Di sinilah latihan sebenarnya dimulai.
Menjaga lisan berarti memilih kata dengan lebih hati-hati. Tidak semua hal perlu dikomentari. Tidak semua perbedaan perlu diperdebatkan. Kadang, diam adalah bentuk kedewasaan.