POSMETRO MEDAN,Medan – Di ujung Jalan Datuk Rumbiah, Kelurahan Medan Marelan, Kota Medan, berdiri sebuah gubuk reyot yang hampir menyatu dengan tepian Sungai Deli. Rumah itu tepat berada di bawah titi gantung (jembatan gantung). Di sinilah Ibu Novi, seorang warga miskin, menjalani hari-harinya.
Setiap hari, Bu Novi berusaha mencari penghasilan dengan menambal ban sepeda motor dan mobil di pinggir jalan. Pekerjaannya bergantung pada satu alat vital: kompresor angin untuk mengisi ban. Tanpa kompresor, usahanya nyaris lumpuh.
Kemarin, Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) mendatangi kediamannya. Mereka membawa bantuan beras untuk meringankan beban Bu Novi. Namun, di balik bantuan itu tersimpan kisah miris. Kompresor yang menjadi tumpuan hidupnya hilang dicuri maling.
Bu Novi tinggal dalam kondisi sangat memprihatinkan. Rumahnya yang semi permanen itu sudah tua, dindingnya rapuh, dan lokasinya rawan banjir serta pencurian. Ia tidak memiliki ponsel. Saat ditanya kalau ada yang mau memberikan batuan, bisa minta nomor HP ibu? Dia justru menyampaikan harapan yang sederhana namun menyayat.
"Kalau punya HP, lebih baik dijual untuk beli kompresor seken," katanya, seperti disampaikan tim KSJ melalui grup WhatsApp wartawan.
Ungkapan itu mencerminkan betapa miskinnya perempuan ini. Bagi kebanyakan orang, ponsel adalah kebutuhan sehari-hari. Bagi Bu Novi, kompresor angin lebih penting daripada alat komunikasi. Tanpa kompresor, ia tak bisa bekerja. Tanpa kerja, ia dan keluarganya tak bisa makan.
Lokasi rumahnya di bantaran Sungai Deli Medan Marelan memang kerap menjadi perhatian. Selain rawan banjir, kawasan ini juga kerap menjadi tempat tinggal warga prasejahtera yang terpinggirkan pembangunan. Jembatan gantung yang menjadi penanda rumah Bu Novi menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya setiap hari.
Kisah Bu Novi mengingatkan kita bahwa kemiskinan di kota besar seperti Medan masih nyata. Di balik hiruk-pikuk lalu lintas dan pertumbuhan ekonomi, masih ada warga yang berjuang hanya untuk bertahan hidup dengan alat seadanya.
Bantuan beras dari KSJ tentu sangat berarti. Namun hilangnya kompresor membuat Bu Novi kembali berada di titik nol. Sekarang, dia menggunakan pompa manual untuk mencari nafkah. Dia berharap ada tangan yang mau membantu menyediakan kompresor angin bekas yang masih layak pakai, agar ia bisa kembali bekerja.(RED)