Kisah Bu Novi, Warga yang Tinggal di Bantaran Sungai Deli Medan Marelan

Sudahlah Miskin Kompresor Untuk Cari Makan pun Digasak Maling

Faliruddin Lubis - Jumat, 24 Juli 2026 14:53 WIB
Tangkapan Layar/WA
Tim KSJ saat mengunjungi rumah Bu Novi.

POSMETRO MEDAN,Medan – Di ujung Jalan Datuk Rumbiah, Kelurahan Medan Marelan, Kota Medan, berdiri sebuah gubuk reyot yang hampir menyatu dengan tepian Sungai Deli. Rumah itu tepat berada di bawah titi gantung (jembatan gantung). Di sinilah Ibu Novi, seorang warga miskin, menjalani hari-harinya.

Setiap hari, Bu Novi berusaha mencari penghasilan dengan menambal ban sepeda motor dan mobil di pinggir jalan. Pekerjaannya bergantung pada satu alat vital: kompresor angin untuk mengisi ban. Tanpa kompresor, usahanya nyaris lumpuh.

Kemarin, Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) mendatangi kediamannya. Mereka membawa bantuan beras untuk meringankan beban Bu Novi. Namun, di balik bantuan itu tersimpan kisah miris. Kompresor yang menjadi tumpuan hidupnya hilang dicuri maling.

Bu Novi tinggal dalam kondisi sangat memprihatinkan. Rumahnya yang semi permanen itu sudah tua, dindingnya rapuh, dan lokasinya rawan banjir serta pencurian. Ia tidak memiliki ponsel. Saat ditanya kalau ada yang mau memberikan batuan, bisa minta nomor HP ibu? Dia justru menyampaikan harapan yang sederhana namun menyayat.

"Kalau punya HP, lebih baik dijual untuk beli kompresor seken," katanya, seperti disampaikan tim KSJ melalui grup WhatsApp wartawan.

Ungkapan itu mencerminkan betapa miskinnya perempuan ini. Bagi kebanyakan orang, ponsel adalah kebutuhan sehari-hari. Bagi Bu Novi, kompresor angin lebih penting daripada alat komunikasi. Tanpa kompresor, ia tak bisa bekerja. Tanpa kerja, ia dan keluarganya tak bisa makan.

Lokasi rumahnya di bantaran Sungai Deli Medan Marelan memang kerap menjadi perhatian. Selain rawan banjir, kawasan ini juga kerap menjadi tempat tinggal warga prasejahtera yang terpinggirkan pembangunan. Jembatan gantung yang menjadi penanda rumah Bu Novi menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya setiap hari.

Kisah Bu Novi mengingatkan kita bahwa kemiskinan di kota besar seperti Medan masih nyata. Di balik hiruk-pikuk lalu lintas dan pertumbuhan ekonomi, masih ada warga yang berjuang hanya untuk bertahan hidup dengan alat seadanya.

Bantuan beras dari KSJ tentu sangat berarti. Namun hilangnya kompresor membuat Bu Novi kembali berada di titik nol. Sekarang, dia menggunakan pompa manual untuk mencari nafkah. Dia berharap ada tangan yang mau membantu menyediakan kompresor angin bekas yang masih layak pakai, agar ia bisa kembali bekerja.

Hidup Bersama Suami

Bersama suaminya, Juned, setiap hari keluarga ini berusaha mencari nafkah sebagai tukang tambal ban meski hidup dalam keterbatasan.

Juned bersama istri dan dua anaknya tinggal di rumah sederhana itu. Dari usaha tambal ban di pinggir jalan itulah ia selama ini menghidupi keluarganya. Namun cobaan kembali datang ketika mesin kompresor yang menjadi alat utama untuk bekerja dilaporkan hilang.

Akibat kehilangan tersebut, Juned kini hanya mengandalkan pompa angin manual untuk melayani pelanggan. Kondisi itu membuat penghasilannya semakin menurun dan tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kesulitan ekonomi juga berdampak pada pendidikan kedua anaknya. Anak pertamanya yang berusia 10 tahun masih bersekolah di salah satu sekolah dasar swasta di Marelan, namun menunggak biaya pendidikan selama lebih dari satu tahun karena tidak sanggup membayar.

Sementara itu, anak keduanya, Cahaya (7), terpaksa mengurungkan impiannya untuk masuk sekolah pada tahun ajaran ini. Keterbatasan biaya membuat keluarga tersebut belum mampu mendaftarkannya ke bangku pendidikan.

Dengan suara lirih, Juned mengaku kondisi keluarganya semakin memprihatinkan. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun ia harus meminjam uang kepada tetangga.

"Anak saya yang paling besar sudah menunggak uang sekolah lebih dari setahun. Yang paling kecil belum bisa sekolah karena tidak ada biaya. Tadi saja kami tidak punya uang untuk makan, sampai saya harus meminjam uang kepada tetangga agar anak-anak bisa makan," ungkap Juned.

Di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi, Juned tetap berharap ada jalan keluar agar ia bisa kembali bekerja secara normal, menyekolahkan kedua anaknya, serta memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. (RED/WA)


Tag:

Berita Terkait

Medan

Rumah Kosong Terbakar di Jalan Talawi Medan

Medan

Selundupkan 398,2 Gram Sabu dalam Sepatu, Warga Aceh Ditangkap di Bandara Kualanamu

Medan

Konektivitas Garoga Kian Tangguh, Pemkab Tapanuli Utara Akselerasi Perbaikan Infrastruktur dan Penanganan Bencana

Medan

Warga Katamso Serukan Buka Cross Barrier di Persimpangan Underpass Titi Kuning

Medan

Diduga Sopir Mengantuk, Truk Tangki Seruduk Rumah Warga

Medan

Bertahun-tahun Dikepung Genangan Air, Warga Gang Pelita II Medan Maimun Minta Wali Kota Medan Turun Tangan