POSMETRO MEDAN, Medan -Deli Art Community kembali menggelar forum diskusi rutinnya di Hazza Coffe pada Jumat, 31 Juli 2026. Mengangkat tema besar yaitu "DISRUPSI AI ADMIST ERA 6.0 SOCIETY", diskusi kali ini menyoroti fenomena "Play God vs Brain Rot" melalui pendekatan analisis metanumerik. Acara ini dibuka secara resmi oleh Ketua Deli Art Community, Dini Sriwati, S.Sos., M.M., yang menekankan konsistensi komunitas tersebut dalam mewadahi diskursus publik. "Kita melaksanakan diskusi rutin kita yang telah kita mulai dari tahun 2015 hingga hari ini," ujarnya.
Bertindak sebagai narasumber sekaligus pemantik diskusi, Saptari Wibowo, menyoroti lompatan teknologi sejak internet pertama kali masuk ke Medan pada tahun 1996. Saptari mengajukan pandangan yang mengaitkan tahun 2026 dengan elemen numerologi 'logam kecil', yang ia interpretasikan sebagai simbol krusialnya peran transistor dalam seluruh perangkat digital saat ini. Menurut perhitungannya, dunia memiliki jendela waktu lima tahun menuju fase 'logam besar' di tahun 2031, sebuah periode yang ia sebut menuntut persiapan manusia menghadapi hal-hal tak terduga, termasuk kemunculan penyakit baru.
Lebih lanjut, Saptari menyampaikan peringatan keras mengenai dampak paparan teknologi yang instan terhadap fungsi kognitif dan sosial. Ia mengklaim adanya ancaman dari radiasi elektromagnetik dan menyoroti degradasi kesadaran manusia (human awareness). Ketergantungan absolut pada teknologi, menurut Saptari, berisiko melahirkan "global idiot"—sebuah kondisi di mana kapasitas berpikir manusia menurun drastis dari potensi aslinya. Kondisi ini ditandai dengan matinya empati sosial; di mana masyarakat menjadi apatis terhadap penderitaan di sekitarnya, seperti mengabaikan orang yang terjatuh di depan mata.
Dalam pemaparannya terkait fase peradaban, Saptari menggarisbawahi transisi menuju Era Society 6.0 yang diwarnai oleh fase "Forecasting Fate", di mana manusia mulai menyerahkan keputusan dan pencarian nasibnya pada Kecerdasan Buatan (AI). Ia mengkritisi pergeseran fungsi AI menjadi "Artificial Emotion" yang menawarkan pencapaian dan kepuasan instan. Ia menegaskan bahwa dorongan dopamin yang terlalu cepat dan dipaksakan berisiko memicu "brain rot" atau penyusutan volume otak yang berujung pada penyakit baru. Fenomena kemunduran interaksi sosial ini bahkan dicontohkannya dengan tren di Jepang, di mana sebagian orang mulai menjadikan robot humanoid sebagai pasangan hidup karena robot selalu memberikan umpan balik yang positif tanpa konflik.
Untuk menanggulangi ancaman "brain rot" dan fenomena cognitive offloading—di mana daya ingat, pemikiran kritis, dan orisinalitas manusia semakin terkikis akibat kemudahan AI—materi tersebut menawarkan solusi mitigasi yang jelas. Langkah-langkah yang direkomendasikan meliputi pembatasan waktu layar secara ketat, pelaksanaan detoks digital secara rutin, serta peningkatan intensitas aktivitas fisik di dunia nyata. (RAM)