POSMETRO MEDAN,Medan – Sejarah panjang Tanah Deli di Sumatera Timur tidak serta-merta dimulai ketika Jacobus Nienhuys datang pada 1863.
Jauh sebelumnya, wilayah Nusantara telah menjadi panggung perdagangan penting yang menghubungkan dunia timur dan barat melalui rempah, hasil hutan, dan komoditas langka.
Sejak abad ke-7, kerajaan-kerajaan maritim besar seperti Sriwijaya hingga Majapahit menjalin hubungan dagang dengan India, Cina, hingga Timur Tengah.
Kapal junk dari Cina rutin bersandar di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, membawa porselin, sutra, dan logam mulia. Sebaliknya, mereka kembali dengan muatan rempah, kayu berharga, kapulaga, kamper, hingga lada dari Sumatra yang sangat diminati pasar dunia.
Sebelum Revolusi Industri, pola pertanian masyarakat Nusantara masih bercorak subsisten. Sejarawan mencatat, sistem yang dikenal adalah kebun campuran dengan lahan kecil, dikelola keluarga, dan hasilnya hanya untuk kebutuhan sendiri.
Namun, sejak abad ke-16, perdagangan internasional kian deras. Pedagang Gujarat, Arab, dan Tiongkok rutin singgah di Aceh, Malaka, dan Jawa, membawa serta pengaruh agama, budaya, sekaligus memperluas jaringan niaga.
Gelombang besar perubahan datang ketika bangsa Eropa menancapkan kekuasaan di kawasan. Portugis menguasai Malaka pada 1511, disusul Spanyol dan Belanda. Dominasi dagang Eropa mengubah wajah perniagaan Asia Tenggara, terutama terkait komoditas rempah dari Maluku dan lada dari Sumatera.
Tanah Deli baru benar-benar dikenal dunia pada paruh kedua abad ke-19. Kedatangan Jacobus Nienhuys menjadi tonggak lahirnya perkebunan tembakau skala besar yang berorientasi ekspor.
Dari lahan-lahan sederhana milik masyarakat lokal, tumbuh perkebunan modern dengan sistem kerja terorganisir, modal besar, dan tenaga kerja kontrak dari Jawa, India, hingga Cina.
Para planters atau pengelola perkebunan Eropa tak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga struktur sosial. Mereka membangun jalur kereta api, gudang penyimpanan, perumahan, hingga klub sosial yang mencerminkan gaya hidup kolonial.