POSMETRO MEDAN,Medan – Sore hari di Taman Kebun Bunga, Medan, selalu menghadirkan pemandangan yang menarik. Di antara para pengunjung yang berolahraga dan bersantai, langit di atas taman berubah menjadi arena pertempuran layangan.
Puluhan layangan berwarna-warni menari di udara, saling berkejaran, bersilang, dan beradu benang, menciptakan suasana meriah yang menghibur siapa pun yang melintas.
Namun, di tengah keramaian itu, ada satu sosok yang selalu menjadi pusat perhatian: seorang pria paruh baya yang akrab disapa Pak Amin.
Dengan gerakan tangan yang lincah dan tatapan penuh konsentrasi, ia mengendalikan layangannya dengan keahlian yang nyaris sempurna.
Tarikan dan uluran benangnya begitu halus, membuat layangan-lawannya satu per satu tumbang di udara. Setiap kali benang lawan terputus, sorak-sorai pun terdengar dari para penonton yang kagum dengan aksinya.
Bagi warga sekitar, kemenangan Pak Amin bukanlah hal baru. Ia dikenal sebagai "jawara layangan" Kebun Bunga—selalu siap menantang siapa pun yang ingin mengadu kemampuan.
Namun di balik kelihaiannya itu, tersimpan kisah unik tentang bagaimana ia memadukan hobi dan pekerjaan dalam satu tarikan benang.
"Main layangan ini sambil hiburan, tapi sekalian jualan juga," ujarnya sambil tersenyum, tanpa melepas pandangannya dari langit. Dari becaknya yang terparkir di pinggir lapangan, Pak Amin menjajakan berbagai jenis layangan dan benang.
Ia memanfaatkan setiap momen kemenangan untuk menawarkan dagangannya. "Yang putus, beli sini aja. Tiga ribu aja satu," katanya ringan kepada para pemain lain yang baru saja kalah.
Strategi berdagangnya sederhana, namun efektif. Keterampilannya di udara membuat banyak orang percaya pada kualitas layangan yang ia jual.