POSMETRO MEDAN, Medan -
Angin perubahan yang dihembuskan lewat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini membawa pahit di meja makan anak-anak sekolah dasar. Bukan karena lauknya hambar, tapi karena di balik cita rasa gizi, terselip racun yang membuat puluhan bocah di Nias Utara tersungkur di ruang gawat darurat.
Pagi kelam, beberapa waktu lalu, di SD Negeri Onozitoli Sawo, Kecamatan Sawo, Kabupaten Nias Utara suara tawa bocah yang baru saja menyantap makanan bergizi tiba-tiba berubah jadi jeritan. Kepala pusing, perut mual, nafas sesak. Satu per satu tumbang.
Mereka dilarikan ke Puskesmas Sawo, bahkan seorang di antaranya harus dirujuk ke RSUD M. Thomsen Nias.
Diduga, makanan dari program MBG yang seharusnya menjadi simbol kepedulian negara, justru berbalik menjadi malapetaka.
Menanggapi tragedi itu, Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, Sutarto, angkat bicara lantang. Dengan nada tegas ia mengingatkan, jangan sampai semangat makan gratis berubah menjadi "makan berisiko."
"Program ini adalah amanah besar Presiden Prabowo untuk menyiapkan generasi unggul bukan generasi yang terancam di meja makan. Maka seluruh proses MBG ini harus dikawal dari hulu ke hilir. Dari dapur penyedia sampai piring siswa," ujar Sutarto, Senin (3/11/2025).
Politikus yang juga Sekretaris DPD PDI- Perjuangan Sumut itu menilai, kegagalan pengawasan bisa menodai cita-cita besar MBG, menciptakan anak bangsa yang sehat, cerdas, dan kuat. Ia mengingatkan, investasi negara dalam gizi anak-anak adalah investasi masa depan bangsa yang tak boleh dikotori oleh kelalaian atau permainan di lapangan.
Lebih jauh, Sutarto menyoroti data mencengangkan yang dirilis Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) per 13 Oktober 2025.