POSMETRO MEDAN,Medan– Kritik terhadap pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) di sejumlah sekolah terus bermunculan. Banyak pihak menilai, penerapan model pembelajaran ini mulai melenceng dari esensinya dan justru menjadi beban tambahan bagi siswa maupun orang tua.
Salah satu kritik datang dari Yulhasni, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Ia menilai bahwa praktik PjBL di lapangan saat ini kerap bergeser dari tujuan awalnya, yakni membangun pembelajaran bermakna berbasis proyek, menjadi kegiatan yang sarat transaksi dan pungutan biaya tinggi.
"PjBL seharusnya menekankan integrasi kurikulum dan pengembangan keterampilan siswa. Namun faktanya, banyak kegiatan yang justru menimbulkan beban finansial, seperti studi tur dan praktik renang berbiaya besar. Jika tidak transparan, ini bisa menimbulkan dugaan pungli dan merusak citra pendidikan," ujar Yulhasni, Jumat (7/11/2025).
Ia menegaskan, PjBL harus berorientasi pada substansi pembelajaran, bukan sekadar pelaksanaan kegiatan tanpa makna akademik yang jelas. Menurutnya, sejumlah studi tur di sekolah sering kali tidak memiliki keterkaitan langsung dengan materi pelajaran dan hanya berakhir sebagai aktivitas wisata tanpa nilai edukatif terukur.
"Model PjBL yang ideal mestinya memanfaatkan sumber daya yang sudah ada di sekolah atau lingkungan sekitar. Jika proyek justru berisiko pada keselamatan dan memberatkan finansial siswa, sekolah perlu mencari alternatif kegiatan yang lebih inklusif, aman, dan sesuai tujuan pendidikan," tegasnya.
Yulhasni juga mendesak sekolah dan dinas pendidikan untuk memperkuat akuntabilitas dalam setiap penerapan PjBL. Ia berharap setiap kegiatan benar-benar memberi nilai tambah terhadap pemahaman siswa, bukan hanya menggugurkan kewajiban kurikulum dengan kegiatan yang mahal dan tidak relevan.(REL)