POSMETRO MEDAN, Medan-"Mana tulisanmu, King. Udah lama abang nggak baca tulisanmu." Begitu kerap ditanyakannya kepadaku, setiap kami bertemu beberapa waktu lalu, saat aktivitasnya belum terhambat oleh penyakit yang menderanya.
Dia kupanggil "bang Una". Nama lengkapnya, Teruna Jasa Said, putra kelima perintis surat kabar terkemuka di Medan, Almarhum HM Said/almh Hj Ani Idrus.
Aku dan Bang Una memang bergelut di dunia yang sama, media massa. Bedanya : Bang Una adalah pewaris Harian Waspada. Sedangkan aku cuma kuli, pekerja pers di beberapa media, sebelum akhirnya mendarat di kelompok penerbitan Jawa Pos Grup hingga pensiun dini pada 2016 lalu.
Waspada adalah salah satu tempat aku belajar menulis, meski aku tak pernah bekerja di koran itu. Dan bang Una adalah orang yang paling sering menagih tulisanku untuk Waspada, juga paling sering memotivasiku untuk terus menulis dengan kritis. Padahal, dia tau persis, aku tidak bekerja di Waspada.
Saat aku berkesempatan menyaksikan langsung Piala Dunia 2010 di Afsel, dan Bang Yap memintaku untuk mengirim tulisan ke Waspada, Bang Una diam-diam menyorongkan amplop kepadaku ; "Ini untuk beli rokokmu di Afsel".
Tapi, awal kekagumanku kepada bang Una, bukan pada Bang Una sebagai jurnalis dan pewaris Waspada. Itu bermula saat aku masih remaja dan penggemar musik rock, di medio tahun 1970-an. Bang Una adalah vokalis grup musik rock terkemuka di Medan saat itu, the Great Session, bersama sang Drumer, Rizaldi Siagian.
Saat itu, Medan menjadi salah satu barometer musik rock Indonesia. Selain Great Session, di Medan juga ada the Minstrel's (Ayun Machruzar, Jelly Tobing dkk), The Rithym King (Purba bersaudara), the Mercy's (Charles Hutagalung dkk), dan beberapa grup lainnya.
Dan aku, adalah penggemar fanatik Great Session, terkhusus bang Una dengan vokalnya yang khas tinggi melengking penuh power. Ahaai... .