POSMETRO MEDAN, Medan- Negeri ini masih punya keberanian menyudahi petualangan kartel narkoba yang meracuni generasi muda bangsa. Gebrakan Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak di Medan mengantar bukti kiprah baru soal itu. Ini analisisnya.
Narkoba di Medan kian menggila. Daya edarnya terus menguat. Sudah menguasai 97 persen. Itu secara teritori.
Laporan jelang tutup 2025 Wali Kota Rico Waas menggambarkan itu. Kata dia, 145 wilayah kelurahan di Medan pekat dengan peredaran barang laknat. Praktis kini hanya 6 kelurahan "yang bersih".
Laporan itu mengingatkan jejak gaya edar opium masa kolonial. Sejarah serasa terulang. Narkoba dijual secara masif dan tanpa rasa takut.
Testimoni Fredy Budiman jelang eksekusi mati turut menggambarkan edannya narkoba di Medan.
Walhasil, rumah candu era Tanah Deli kini berganti barak sabu. Juga kelab malam sarang pesta ekstasi. De Tonga adalah bukti anyar tempat ajojing malam di Medan menjadi "apotik gelap".
Pun berstatus darurat narkoba, kota wajah vital Indonesia wilayah barat ini belum punya fasilitas BNNK (Badan Narkotika Nasional Kota).
Fakta pilu masa ke masa itu serasa menegaskan aura Medan dalam akronim, "Masuklah Engkau Dalam Api Neraka".
Sejarah Medan menyapu narkoba mencatat dua operasi menohok jantung Sumatera Utara ini.
Kisah Buwas alias Budi Waseso dan BNN sedekade lalu di Kampung Kubur adalah debut menggebrak narkoba Medan. Operasi gencarnya sukses menamatkan kisah "supermarket" narkoba di tengah kota itu.