Cuaca terlihat cerah di Lapangan Balai Desa Helvetia, Medan, yang siang itu dipenuhi semarak seragam olahraga dan wajah-wajah belia antusias penuh harap. Pembukaan Pekan Olahraga Pelajar Kota (Popkot) Medan 2026 terasa betul tidak hanya sebagai rutinitas seremoni tahunan.
Ada energi yang hidup di tengah ratusan atlet muda yang berkumpul. Namun yang paling terasa justru bagaimana Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, datang bukan saja untuk membuka acara secara formal, tetapi benar-benar memberikan hati dan meluangkan waktunya untuk anak-anak itu.
Sejak tiba di lokasi, Rico Waas terlihat menikmati setiap momen bersama para atlet pelajar. Tak tampak sama sekali kalau dia terburu-buru mengejar agenda berikutnya. Pasti masih sangat padat, tentunya. Di hadapan ratusan atlet yang mewakili 1.100 peserta Popkot, Rico memilih berjalan lebih dekat, menyapa, bercakap, bahkan sesekali berhenti untuk mendengar cerita mereka. Kehadirannya memberi kesan hangat, seolah ia ingin memastikan bahwa anak-anak muda itu merasa diperhatikan dan dihargai.
Dalam sambutannya, Rico menegaskan bahwa Popkot bukan sekadar kompetisi olahraga. Baginya, ajang ini adalah ruang untuk menumbuhkan bibit-bibit atlet Kota Medan sejak usia dini.
"Hari ini mudah-mudahan Popkot terus bisa membangun calon-calon bibit atlet baru yang ada di Kota Medan, dari dini sekali hingga nanti dewasa," ujarnya.
Suasana paling hidup hadir ketika ia mulai berinteraksi langsung dengan para atlet muda. Dengan gaya santai dan penuh canda, Rico memanggil beberapa atlet anak dan remaja ke depan panggung. Obrolan yang terjalin terasa cair dan akrab, jauh dari kesan formal antara kepala daerah dan peserta acara.
Ada Adrian Nicolas Parhusip, atlet judo dari SMA Negeri 11 Medan yang telah meraih sabuk hitam setelah lima tahun berlatih. Ada pula Rayan Arutala, atlet panjat tebing berusia enam tahun, serta Cut Nadin Fitriani, karateka dari SMP Negeri 14 Medan. Rico ngobrol dengan mereka seperti seorang bapak atau bahkan abang yang sedang memberi semangat kepada adik-adiknya. Pertanyaan-pertanyaan ringan dan jenaka yang ia lontarkan beberapa kali memancing gelak tawa dan tepuk tangan para peserta yang memenuhi lapangan.
Walau pertanyaan ringan, terselip juga pesan untuk membangun keakraban. Rico, misalnya bertanya, siapa nama Kadispora Medan atau Camat Medan Helvetia. Jika atlet muda itu tampak ragu-ragu, dia membolehkan mereka bertanya langsung kepada Tengku Chairuniza, S.Sos, M.AP dan Gunawan Perangin Angin, S.T., M.M yang memang hadir dalam acara tersebut. Anak-anak itu jadi punya jalan membangun rasa percaya diri sekaligus keakraban dengan para pejabat Pemko Medan yang tentu saja juga punya semangat untuk membina mereka. Sekali mengayuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui.
Di balik suasana santai itu, terselip perhatian yang serius terhadap masa depan generasi muda Kota Medan. Rico berbicara tentang disiplin, proses panjang menjadi juara, hingga pentingnya menjaga diri dari narkoba dan judi online.
"Menjadi pemenang tentu harapan kita semuanya. Bisa naik podium, membanggakan keluarga dan diri sendiri. Tapi itu semua dimulai dari proses sejak dini, keseriusan, keteguhan, rutinitas yang baik, dan kedisiplinan," kata Rico.