POSMETRO MEDAN, Kathmandu – Pihak berwenang Nepal memakamkan ratusan jenazah korbanbanjir bandang yang belum teridentifikasi di hutan Devghat, Distrik Chitwan. Sebanyak 96 jenazah tak dikenal dimakamkan pada Sabtu 29 Agustus 2026, disusul lebih dari 100 jenazah lainnya pada Minggu 30 Agustus 2026.
Keputusan ini diambil karena jenazah-jenazah tersebut mulai membusuk dengan cepat, sementara kapasitas kamar mayat dan fasilitas penyimpanan sementara di daerah setempat sudah penuh. Banyak jenazah terbawa arus sungai Bhotekoshi dari wilayah bencana di perbatasan Nepal-Tibet (sekitar 200 km di hulu) hingga tiba di Chitwan.
"Kami tidak memiliki pilihan lain dan harus mengambil langkah ini. Kekhawatiran kami adalah risiko kesehatan masyarakat akibat proses pembusukan jenazah yang berlangsung cepat," ujar Ganesh Aryal (juga disebut Ganesh Arya dalam beberapa laporan), pejabat distrik Bharatpur, Chitwan.
Menurut pejabat setempat, dari ratusan jenazah yang ditemukan di Chitwan (berkisar 233–272 menurut laporan berbeda), hanya sedikit yang berhasil diidentifikasi secara visual—hanya empat hingga belasan orang. Sisanya sudah sulit dikenali karena kondisi yang parah setelah beberapa hari di air.
Sebelum dimakamkan, tim medis mengambil sampel DNA dari setiap jenazah, memotret ciri-ciri yang tersisa, mencatat barang pribadi, dan memberi nomor identifikasi unik.
Lokasi setiap kubur juga dicatat secara rinci, dengan penanda di atas dan di bawah tanah, agar keluarga dapat menggali kembali jenazah jika identitas terkonfirmasi melalui tes DNA di kemudian hari. Langkah ini mengikuti protokol standar, termasuk pedoman ICRC (Palang Merah Internasional).
India telah mengirim tim forensik untuk membantu analisis DNA. Pemerintah Nepal menekankan bahwa pemakaman ini bersifat sementara. Di Nepal yang mayoritas beragama Hindu, jenazah biasanya dikremasi. Jika keluarga berhasil mengidentifikasi, jenazah dapat diekshumasi untuk prosesi ritual keagamaan.
Banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser di kawasan Himalaya pada Rabu 26 Agustus 2026 menyebabkan kerusakan dahsyat di sepanjang perbatasan Nepal-Tibet.
Jumlah korban tewas yang berhasil ditemukan mencapai sekitar 750–800 orang (gabungan Nepal dan Tibet), sementara lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan warga negara asing.
Distrik Chitwan mencatat jumlah penemuan jenazah tertinggi. Operasi pencarian dan pemulihan jenazah masih berlanjut di sungai dan area puing. Pihak berwenang juga meminta bantuan freezer dan kit pengujian DNA karena fasilitas lokal kewalahan.