POSMETRO MEDAN- Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat melalui Kantor Camat Kerajaan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam, TNI/Polri, Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa, COP, Pemerintah dan masyarakat desa Kuta Saga terus memantau kehadiran binatang buas diduga jenis harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) di desa ini.
Plt. Camat Kerajaan Sondang M Berutu, SE mengurai beberapa upaya yang dilakukan diantaranya memasang beberapa kamera tersembunyi (kamera trap) di beberapa titik lokasi yang diduga menjadi area perlintasan harimau, termasuk memantau bangkai sapi yang ditinggalkan binatang buas ini.
Sondang mengungkapkan keberadaan hewan buas yang dikenal sebagai raja hutan ini sempat terpantau kamera pengintai ketika dia kembali mendatangi bangkai sapi yang ditinggalkan sebelumnya, namun setelah dilakukan penelusuran selama beberapa hari tidak ditemukan lagi keberadaannya disekitar lokasi.
Kejadiannya bermula pada kamis (17 september) kemarin, kami menerima laporan adanya jejak-jejak harimau di kawasan perladangan sulampak, desa Kuta Saga, dihari yang sama ternyata hewan ini telah memangsa seekor sapi milik warga.
Terkait hal ini kami sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten, BKSDA, Kepolisian dan juga TNI.
Upaya yang kami lakukan pada dasarnya adalah mencegah korban, baik itu dari masyarakat jangan sampai ada korban, serta juga mencegah supaya jangan ada pihak-pihak tertentu yang mencoba membunuh hewan ini, bagaimanapun, hewan ini sangat dilindungi, jelas Sondang Berutu.
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae atau Panthera tigris sondaica) --seperti disiarkan dalam sebuah postingan anonim facebook @Pemkab pakpak bharat yang terlihat POSMETRO MEDAN, Rabu 23 September 2026-- merupakan satu-satunya subspesies harimau asli Indonesia yang masih bertahan hidup hingga saat ini.
Dua saudaranya, harimau bali dan harimau jawa telah dinyatakan punah.
Satwa endemik Pulau Sumatra ini berstatus Kritis dengan perkiraan populasi liar yang tersisa di alam liar hanya sekitar 400 hingga 500 ekor.