Kenapa Seminar Internasional IECESS FEB Unimed Abal-abal?

Laporan Tim Redaks POSMETROMEDAN.id
Administrator - Jumat, 30 Oktober 2026 20:50 WIB
Ist

POSMETRO MEDAN, Medan -Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Medan baru saja melangsungkan seminar internasional dengan nama IECESS 2026 The 3rd Internasional Economic Conference for Enabling Sustainabiliy di auditorium Unimed, Rabu 28 Oktober 2026, tepatnya di Perayaan Hari Sumpah Pemuda kemarin.

Jumlah pesertanya tercatat ada 1.043 yang hadir. Tapi anehnya, pesertanya dari kalangan internal FEB Unimed semua. Masing-masing Kaprodi diduga diperintah Dekan dan Wakil Dekan 1 FEB Unimed agar mengerahkan mahasiswa semester akhir atau yang mau skripsi untuk menjadi presenter dengan bayaran Rp250.000 per paper dan sebagai peserta Rp100.000.

Seminar ini kemudian dicap 'abal-abal' karena tidak memenuhi sejumlah syarat sebagai seminar internasional. Bagaimana penjajakan tim redaksi posmetromedan.id atas penilaian itu? Berikut kami sajikan laporannya dengan indepth news (analisis liputan mendalam).

Jadi bisa diperkirakan dari seminar yang dihadiri 1.043 peserta dikali Rp100.000 saja sudah lebih Rp100 juta dan penyelenggaraannya di auditorium Unimed. Peserta yang hadir semuanya dari kalangan internal semua prodi yaitu Akuntansi, Bisnis Digital, Ilmu Ekonomi, Kewirausahaan, Magister, Manajemen, Pendidikan Administrasi Perkantoran, Pendidikan Akuntansi, Pendidikan Bisnis, Pendidikan Ekonomi.

Jadi idealnya bukan seminar internasional, tapi kuliah umum walaupun ada tiga pembicara yang berasal dari luar negeri, seperti dari Thailand, Malaysia dan Irlandia yang hadir secara online (zoom).

Seluruh mahasiswa di semester akhir yang sedang menyusun skripsi atau yang masuk di semester tujuh diduga 'dipaksa' oleh Dekanat dan para Kaprodi untuk menjadi peserta. Jika Kaprodi tak bisa menghadirkan mahasiswa sesuai target makan Kaprodi pun diduga akan diberi sanksi oleh Wakil Dekan 1 termasuk tidak mencairkan sebagian dana PO para Kaprodi.

Menurut penelusuran tim redaksi, namanya saja yang seminar internasional, tapi pesertanya hanya dari kalangan internal semua.

Lalu kenapa IECES ini jadi seminar 'abal-abal' dan tak layak jadi seminar internasional? Tim redaksi mengkomparasi pelaksanaanya seminar ini dengan ketentuan dari Kemendiktisaintek. Dari informasi yang diperoleh berdasar ketentuan Kemendiktisaintek, seharusnya dalam melaksanakan seminar internasional ada beberapa syarat yang harus dipenuhi termasuk luaran publikasi. Di seminar IECES ini luaranya hanya berbekal E-ISSN (Electronic International Standard Serial Number) sebagai identitas digital bagi prosiding yang diterbitkan secara berkala secara online.

Memang keberadaan E-ISSN ini untuk menunjukkan kumpulan artikel ilmiah dari satu seminar terdaftar secara resmi di pangkalan data internasional (seperti ISSN International Centre). Namun, untuk prosiding dan seminar internasional, E-ISSN saja tidak cukup. Agar sebuah paper di seminar internasional memiliki nilai angka kredit (KUM) yang diakui oleh Tim Penilai Angka Kredit (PAK) Dikti serta memiliki reputasi akademik yang kuat, ada standar dan komponen wajib lain yang harus dipenuhi.

Lalu kenapa E-ISSN saja tidak cukup? Berdasarkan Panduan Operasional Penilaian Angka Kredit (PO PAK), status prosiding internasional tidak hanya dinilai dari nomor identifikasinya saja, melainkan dari keseluruhan ekosistem publikasinya. Maka komponen wajib tambahan selain E-ISSN adalah prosiding seminar internasional yang diterbitkan sebagai satu jilid buku kumpulan artikel, sehingga diwajibkan memiliki ISBN (International Standard Book Number).



Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Sekda Deli Serdang Lantik Tiga Pejabat Pengawas, Tekankan Integritas dan Kinerja

Peristiwa

Pemkab Deli Serdang Apresiasi Operasi Polresta, 12 Bandar dan 46,5 Kg Narkotika Diamankan

Peristiwa

GRIB Jaya Medan Turun ke Jalan, Ratusan Paket Makanan Dibagikan dalam Jumat Berkah

Peristiwa

Forkala Goes to School 4, Perkenalkan Keberagaman Etnik dan Budaya di Sekolah Medan Mulia

Peristiwa

Satresnarkoba Polrestabes Medan Gerebek Gudang Penyimpanan Narkoba Berkedok Kandang Ayam

Peristiwa

Rico Waas Dorong Digitalisasi Pendapatan Tanpa Naikkan Pajak, Kadis SDABMBK Medan Hadiri Forum Digital Bapenda se-Indonesia