Hujan tak Kunjung Reda, Tanah pun Retak: Sumatera Utara Dikepung Air dan Longsor

Evi Tanjung - Rabu, 26 November 2025 22:14 WIB
Ist
Sumatera Utara dikepung air

POSMETRO MEDAN, Medan -Sejak Sabtu pekan lalu, langit Sumatera Utara seolah berlatih kembali seperti tahun sebelumnya, menumpahkan isi perutnya tanpa jeda. Hujan yang turun berlapis-lapis hingga Rabu malam,( 26/11/ 2025), mengubah banyak daerah menjadi ladang air dan bongkah tanah basah yang meluncur dari perbukitan. Sungai-sungai yang selama ini jinak berubah galak, merayap ke pemukiman warga dan memutus jalan antarwilayah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, Tuahta Ramajaya Saragih, menggambarkan situasi itu dengan suara menahan lelah.

"Hingga malam ini, tujuh kabupaten dan kota terdampak banjir serta longsor. Empat warga Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Tapteng, ditemukan meninggal tertimbun material longsor," ujarnya pada Selasa malam yang dingin oleh hujan.

Tapteng-Tapsel, Dua Kabupaten yang Paling Luka

Di Tapanuli Tengah (Tapteng), air bah datang tiba-tiba. Kecamatan Tukka yang biasanya tenang berubah menjadi lorong pelarian. Ratusan warga terpaksa mengungsi setelah banjir bandang melumat rumah-rumah mereka yang sudah tak aman.

Dari Tapanuli Selatan (Tapsel), kabar tak kalah muram datang. Banjir bandang juga menyapu Huta Godang, Batangtoru. Namun Tapsel tak sepenuhnya selamat. Jalan penghubung vital menuju Kabupaten Mandailing Natal di Desa Rianite, Angkola Sangkunur, terputus dihantam longsor.

Tanah yang jenuh air sejak empat hari itu tak mampu lagi menahan bebannya dan runtuh menutup akses warga.

Taput, Sungai Meluap, Rumah Mengapung Ketakutan

Di Tapanuli Utara, tepatnya di Desa Sitolubahal dan Robean, Kecamatan Purbatua, banjir merendam sekitar 60 rumah setelah Sungai Aek Mahassan meluap. Dua titik longsor di Robean menimpa dua rumah. Satu keluarga mengalami luka-luka.



Tag:

Berita Terkait