POSMETRO MEDAN, Medan - Hujan yang tak kunjung pamit sejak sepekan terakhir dari 21 hingga saat ini, 27 November 2025 menjadikan Sumatera Utara seperti sebuah panggung bencana yang diputar ulang tanpa jeda. Air meluap dari hulu, memutus jalan, menenggelamkan rumah, menghanyutkan jembatan, dan meninggalkan wajah pucat pada warga yang tiba-tiba kehilangan tanah berpijak.
Tapi hujan, sebagaimana kata banyak orang tua, hanyalah rahmat.
Yang tidak rahmat adalah ketika rahmat itu jatuh di atas tanah yang telah lama digerogoti keserakahan.
Dan di tengah kepanikan banjir yang menyeret kayu-kayu gelondongan lebih cepat dari kabar pemerintah daerah, perlahan muncul jejak,
Ada tangan manusia di balik air bah Sumut.
Di Medan, Tapanuli Tengah, Dairi, Karo, hingga Mandailing Natal, banjir besar tahun ini terjadi meski hujan hanya berlangsung 7 hari. Padahal tahun lalu hujan turun sebulan penuh namun dampaknya tak separah 2025. Ada yang aneh. Ada yang janggal. Ada yang bocor di tubuh hutan Sumatera Utara.
Di sela percakapan, Ketua Bapemperda DPRD Sumut Darma Putra Rangkuti mengabarkan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju salah satu titik terdampak.
"Lagi otw, kejebak macet…" ujarnya singkat. Kalimat itu bukan sekadar laporan lokasi, itu menegaskan bahwa situasi di lapangan bukan hanya banjir, tetapi juga arus kemacetan yang menahan gerak para pemangku kebijakan.
Jalanan yang sempit, tersumbat luapan air dan kendaraan yang sama-sama panik mencari arah, menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur ketika diuji air. Darma mengatakan ia tengah fokus turun langsung meninjau dampak banjir, mencoba memastikan bantuan dan penanganan berjalan meski medan melelahkan.
Ketua Bapemperda DPRD Sumut, Darma Putra Rangkuti, dari Fraksi Golkar, saat ditanya, tak menutupi fakta itu.