POSMETRO MEDAN, Medan - Suasana senyap di kawasan Jermal, salah satu titik yang dikenal sebagai "kartel" narkoba dan judi terbesar di Medan, mendadak pecah pada Minggu (11/1/2026) dini hari .
Tim gabungan dari TNI, Polri, Pemerintah Daerah, dan BNN Provinsi Sumatera Utara kembali merangsek masuk untuk melakukan penegakan hukum. Ini merupakan kehadiran petugas yang ketujuh kalinya dalam misi beruntun untuk memutus mata rantai kriminalitas yang telah menggurita selama bertahun-tahun di kawasan tersebut.
Kapolrestabes Medan, Kombes Pol. Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa operasi kali ini adalah pesan kuat bahwa negara tidak boleh kalah oleh premanisme dan peredaran gelap narkotika.
Jean Calvijn mengenang bagaimana dulu kawasan Jermal sangat sulit ditembus. Setiap kali petugas melakukan penindakan, perlawanan fisik selalu terjadi.
"Dulu, setiap ada penegakan hukum di sini, selalu ada perlawanan dari oknum-oknum setempat. Ada pelemparan, penyekapan anggota, bahkan ada yang menjadi korban. Tersangka yang sudah ditangkap dipaksa lepas, dan barang bukti yang diamankan dirampas kembali," ujar Kombes Jean Calvijn di lokasi operasi, Minggu dini hari.
Dengan nada bicara tegas, ia menyatakan bahwa era intimidasi terhadap penegak hukum di Jermal telah berakhir.
"Sekali lagi saya sampaikan, hal itu tidak boleh lagi terjadi!" ucapnya.
Perwira yang akrab disapa JCS ini, operasi di Jermal bukan sekadar urusan teknis kepolisian seperti preventif atau preemptif. Ia menyebut gerakan ini sebagai misi kemanusiaan.
Menurutnya, membiarkan Jermal terus menjadi sarang narkoba sama saja dengan membiarkan kehancuran generasi muda Indonesia. Apalagi, dampak narkoba dan judi selalu diikuti oleh gelombang kejahatan lain yang meresahkan warga.