POSMETRO MEDAN, Labuhanbatu – Di tengah himpitan ekonomi yang kian terasa, beban orang tua siswa di SDN 05 Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, justru bertambah.
Harapan agar sekolah menjadi tempat yang meringankan beban pendidikan, kini terusik dengan adanya dugaan pungutan liar (pungli) berkedok uang perpisahan guru.
Sekolah yang menyandang akreditasi B dan sertifikasi ISO 9001:2008 ini tengah orang tua yang merasa keberatan dengan iuran untuk guru yang pensiun atau pindah tugas.
Seorang wali murid yang enggan disebutkan identitasnya mengisahkan bagaimana buah hatinya diminta memberikan sejumlah uang. Alasan pihak sekolah sederhana, ada kepala sekolah dan guru kelas yang akan pindah tempat kerja.
"Anak saya diminta dua puluh ribu untuk dua guru itu. Satu guru sepuluh ribu. Katanya untuk uang perpisahan," ungkapnya dengan nada kecewa, Selasa (28/4/2026).
Mirisnya, pungutan ini seolah sudah menjadi tradisi yang "dimaklumi" di lingkungan sekolah yang memiliki 500 lebih siswa tersebut. Setiap kali ada pergantian staf atau guru, para siswa diminta untuk merogoh kocek. Bahkan, pihak sekolah kabarnya memberikan kelonggaran yang tak lazim, uang tersebut boleh dicicil jika orang tua tidak sanggup membayar sekaligus.
Praktik ini dikonfirmasi oleh salah satu tenaga pendidik di SDN 05 Rantau Utara. Pengumuman mengenai iuran tersebut dilakukan secara terang-terangan melalui grup WhatsApp wali murid. Namun, sang guru berdalih bahwa pihaknya tidak mematok nominal tertentu secara kaku.
"Iya benar (ada pungutan), tapi tidak ada saya tuliskan berapa nominalnya di grup. Itupun berdasarkan perintah kepala sekolah," aku guru tersebut, mencoba mengklarifikasi keterlibatannya.