POSMETRO MEDAN,Medan- Politik pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang sedang memegang palu. Ia adalah tentang ingatan kolektif-tentang bagaimana kekuasaan dijalankan, dan bagaimana seorang pemimpin dikenang setelah soroton meredup.
Di Sumatera Utara, Partai Golkar tengah berada pada persimpangan penting. Struktur bergerak, kepengurusan berubah, dan wacana kepemimpinan kembali menghangat menjelang Musyawarah Daerah (Musda). Namun, di balik dinamika itu, satu pertanyaan apa yang seharusnya diwariskan dari sebuah kepemimpinan?
Ketua Komisi D DPRD Sumatera Utara dari Partai Golkar, Timbul Jaya Hamonangan Sibarani, memilih menjawabnya dengan tenang. Bagi Timbul, Golkar hari ini tidak boleh terjebak pada euforia kemenangan elektoral semata. Menjadi pemenang, kata dia, justru menghadirkan tanggung jawab yang lebih berat.
"Tantangannya sekarang bukan lagi bagaimana, menjaga kepercayaan dan soliditas," ujar Timbul, Selasa, (13/1/2026) melalui sambungan telepon kepada wartawan.
Ia menegaskan, Ketua DPD Golkar Sumut ke depan haruslah figur yang berkapasitas-mampu membaca denyut masyarakat, merangkul perbedaan/etnis dan menata kepengurusan secara inklusif.
Golkar, menurutnya, harus benar-benar menjadi rumah besar bagi seluruh elemen, pengusaha, petani, pekerja, hingga kelompok-kelompok sosial yang selama ini menjadi denyut nadi Sumatera Utara.
Namun, bagi Timbul, membicarakan masa depan tanpa menengok masa lalu adalah kekeliruan. Dalam setiap transisi, selalu ada pelajaran yang layak diwariskan.
Ia menyinggung kepemimpinan Musa Rajekshah, mantan Ketua DPD Golkar Sumut-bukan dalam konteks jabatan, melainkan dalam konteks nilai.
"Selama beliau menjabat, ada kepedulian yang nyata. Banyak sisi positif yang bisa dijadikan contoh," kata Timbul.
Salah satu yang ia ingat adalah kehadiran langsung dalam situasi bencana dan kepedulian kepada masyarakat merangkul masyarakat. Bagi Timbul, kepemimpinan diuji di medan nyata saat masyarakat menghadapi musibah dan negara dituntut hadir.