POSMETRO MEDAN,Tak banyak sosok Kapolda Sumatera Utara dengan masa bakti lebih dua kalender, seperti yang kini dijalankan Inspektur Jenderal Polisi Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H. Inilah asbabun nuzul soal itu.
Catatan : POSMETRO MEDAN
Jenderal adalah hero. Itu identiknya. Pun jenderal polisi. Ditopang sifat ayom, peran memupus keresahan membuatnya pahlawan bagi masyarakat.
Apalagi jenderal yang cerdas. Kepiawaiannya menangkal inovasi kejahatan yang hari-hari ini kian tampil edan dan canggih semakin dibutuhkan publik.
Kebutuhan masyarakat soal aparat hukum yang andal telah lebih seabad lalu digaungkan Sir Arthur Conan Doyle. Ini tokoh sejarah kepolisian modren. Persisnya digaung sejak legenda sastra Inggris itu melahirkan karakter Sherlock Holmes di ujung abad ke-19.
Sherlock Holmes terlanjur tenar sebagai fiksi aparat serse yang cerdas. Ketenarannya bahkan membuat Scotland Yard menjadi kiblat kepolisian banyak negara, tak terkecuali Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia).
Nah, di Sumatera Utara (Sumut) yang populasi kejahatannya acap paling tinggi di Tanah Air, tokoh searah Sherlock Holmes diwakili Irjen Whisnu Hermawan Februanto. Peran itu sebangun dengan rekam jejak Whisnu.
Catatan karier tiga dekade membuat Whisnu ditahbiskan sebagai ahli serse. Itu yang membuatnya dikenal piawai menghadirkan kenyamanan bersusul rasa aman untuk masyarakat.
Kiprahnya dua tahun satu bulan terakhir membuktikan itu. Tak ditemukan keputusan 'Trunojoyo 3' yang merotasi Whisnu sebagai bintang penjaga stabilitas keamanan Sumut. Setidaknya sampai awal semester kedua tahun ini.
Padahal, rotasi kalangan elit Polri ulang kali terjadi empat bulan terakhir. Bahkan menyenggol dua kepala polda wilayah jiran Sumut.