POSMETRO MEDAN,Asahan– Perjalanan hidup AKBP Revi Nurvelani, S.H., S.I.K., M.H., hingga akhirnya menjabat sebagai Kapolres Asahan, ternyata bukanlah jalan yang pernah ia rencanakan.
Lahir dari keluarga sederhana, dengan orang tua seorang guru di Tasikmalaya, Revi tumbuh sebagai remaja yang aktif dan gemar berolahraga. Saat SMA di Bandung, ia tinggal bersama saudaranya dan menjalani kehidupan layaknya pelajar pada umumnya.
Revi mengaku sejak kecil tidak pernah terpikir untuk menjadi polisi, apalagi lulusan Akademi Kepolisian (Akpol). Cita-citanya justru menjadi guru matematika. Ia bahkan sudah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan ke ITB setelah lulus sekolah.
Namun perjalanan hidup berubah ketika seorang teman SMA bernama Rahman memintanya untuk menemani mendaftar polisi ke Polda Jawa Barat.
Saat itu Revi menolak karena merasa tidak tertarik dan lebih memilih bermain basket. "Kita aja masih kucing-kucingan sama polisi, kamu malah mau tes polisi," cerita Revi, mengulang kembali ucapan masa SMA-nya.
Karena tidak ada teman lain yang bersedia mengantar, Rahman kembali menemui Revi di lapangan basket dan memaksanya untuk ikut, setidaknya hanya sebagai teman.
Sesampainya di Polda Jawa Barat, Revi justru melihat tujuh temannya dari sekolah yang juga sedang mendaftar. Dari situ rasa penasaran mulai muncul. Ia menanyakan persyaratan, membawa brosur, lalu memutuskan pulang untuk menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.
Tak disangka, pada tes tahap pertama hingga berikutnya, justru ketujuh temannya gugur dan Revi seorang diri yang terus melaju ke tahap selanjutnya. Padahal awalnya ia hanya berniat "ikut-ikutan" dan tidak benar-benar ingin menjadi polisi.
Ketika panggilan tes lanjutan di Semarang tiba, Revi berada di titik bimbang. Ia ingin kuliah, terlebih ada perempuan yang ia sukai di kampus pilihannya, namun orang tuanya lebih merestui ia mengikuti panggilan tersebut.
Dengan uang saku hanya Rp150 ribu dari orang tuanya, ia berangkat ke Semarang.