Menjadi Kapolda Sumatera Utara bukanlah penugasan "biasa". Di pundak seorang Kapoldasu, bertumpu tanggung jawab menjaga salah satu provinsi paling dinamis di Indonesia. Wilayah yang besar dan luas, penduduk yang majemuk dengan karakter sosial yang lugas dan terbuka.
Demikian pula tingkat kriminalitas yang tinggi. Belum lagi denyut politik, ekonomi, hingga gesekan sosial yang setiap saat dapat berubah menjadi tantangan keamanan yang serius. Dalam konteks seperti itu, mampu menjalankan tugas pokok menjaga keamanan dan ketertiban saja, sesungguhnya sudah merupakan prestasi yang layak diapresiasi. Sampai ada semacam kesimpulan tidak resmi: berhasil di Sumut dipastikan akan berhasil di pengugasan mana pun.
Karena itu, apa yang ditunjukkan Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, SIK, MH, selama memimpin Polda Sumut patut dicatat lebih dari sekadar keberhasilan administratif seorang pejabat kepolisian. Ia tidak hanya hadir sebagai aparat penegak hukum. Ia juga membuktikan diri sebagai seorang pembangun.
Barangkali inilah yang membedakan kepemimpinan Whisnu dengan banyak pendekatan birokratis lain yang kerap berhenti pada rutinitas. Di tengah tugas-tugas kepolisian yang tidak pernah ringan, ia berani membawa semangat pembenahan. "Berbenah setiap hari, semakin baik setiap waktu."
Hasilnya dapat dilihat dengan nyata. Di bawah kepemimpinannya, Polda Sumut membangun 20 gedung baru dan renovasi sembilan gedung lainnya. Pembenahan itu bukan hanya mempercantik bangunan, melainkan memperbaiki wajah pelayanan publik: ruang SPKT yang lebih manusiawi, pelayanan Samsat yang lebih nyaman, hingga fasilitas SKCK yang lebih modern dan tertata. Ada kesadaran bahwa kepercayaan publik terhadap institusi negara sering kali lahir dari pengalaman sederhana masyarakat saat datang mencari pelayanan.
Namun yang membuat langkah Whisnu terasa lebih menarik adalah keberaniannya melampaui batas formal tugas kepolisian. Di area belakang Polda Sumut, hadir fasilitas olahraga yang dapat digunakan masyarakat: lapangan sepak bola, jogging track, gym outdoor, lapangan basket, voli, hingga badminton indoor. Bahkan ruang bagi pelaku UMKM pun disediakan. Di titik ini, Polda tidak lagi tampak sebagai institusi yang berjarak dan kaku, melainkan mulai menjadi ruang publik yang hidup dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Inilah sebabnya, penyematan berbagai penghargaan nasional kepada Polda Sumut selama masa kepemimpinannya terasa relevan dan memiliki dasar yang kuat. Mulai dari penghargaan pengelolaan aset negara terbaik di lingkungan Polri, penghargaan kepemimpinan bidang law and crime prevention, hingga penghormatan atas kontribusi dalam program ketahanan pangan nasional. Penghargaan tentu bukan tujuan utama, tetapi menjadi penanda bahwa kerja yang dilakukan memang terlihat dan dirasakan.
Kita tentu memahami, tidak ada kepemimpinan yang sempurna. Sumatera Utara masih menyimpan banyak pekerjaan rumah di bidang keamanan dan ketertiban. Tantangan narkotika, kejahatan jalanan, konflik sosial, hingga problem klasik penegakan hukum tetap memerlukan perhatian serius. Namun di tengah kompleksitas itu, publik juga patut memberi apresiasi ketika melihat adanya ikhtiar tulus untuk membangun institusi menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, sejarah kepemimpinan sering tidak hanya diingat dari seberapa banyak masalah yang berhasil diselesaikan, tetapi juga dari jejak apa yang ditinggalkan. Sejauh ini, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto tampaknya sedang meninggalkan jejak sebagai lebih dari sekadar Kapolda. Ia sedang membangun warisan tentang bagaimana institusi kepolisian dapat hadir lebih dekat, lebih humanis, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.
Karena itu, menyebutnya sebagai "Kapolda Pembangun" rasanya bukanlah sebuah apresiasi yang berlebihan. (Toga Nainggolan, Pemimpin Redaksi Posmetro Medan)