POSMETRO MEDAN,Monterrey– Debut Piala Dunia adalah mimpi besar bagi setiap pesepak bola. Namun bagi Yasin Ayari, pemain muda berusia 22 tahun asal Swedia, debutnya di Piala Dunia 2026 terasa lebih Istimewa, bukan hanya karena gol, tetapi karena pilihan hati dan identitas yang ia bawa sejak lahir.
Dalam pertandingan Grup H di Monterrey, hanya tujuh menit berlalu, Ayari melesakkan tendangan voli spektakuler ke pojok atas gawang Tunisia.
Gol pembuka itu seharusnya disambut dengan selebrasi meriah. Namun Ayari memilih hal lain, ia mengangkat kedua tangannya, lalu bersujud Syukur, menempelkan kening ke rumput hijau stadion.
Selebrasi itu bukan tanpa makna.Sujud adalah ungkapan syukur kepada Allah.Dan di balik gol itu, ada kisah keluarga, migrasi, dan kecintaan yang melintasi batas negara.
Yasin Ayari lahir di Swedia dari seorang ayah Tunisia dan ibu Maroko. Darah Afrika Utara mengalir kuat dalam dirinya. Namun ia tumbuh besar di tanah Skandinavia, di kota Solna, tempat ia mulai bermain sepak bola sejak usia tujuh tahun.
Pada usia 18 tahun, Ayari dihadapkan pada pilihan besar: membela Tunisia (negara asal ayahnya) atau Swedia (negara kelahirannya). Ia memilih Swedia. Sang ayah, Azzouz Ayari, mendukung sepenuhnya.
"Saya ingin dia bermain untuk Swedia. Dia harus merasa seperti dia memberi kembali kepada negara yang merawatnya," ujar Sang Ayah kala itu.
Tawaran dari tim nasional Tunisia datang. Namun baik ayah maupun anak tidak pernah menganggapnya sebagai opsi yang serius. Hati Ayari telah bulat, ia akan mengibarkan bendera kuning dan biru.
Ayari memulai karir sepak bolanya di klub kampung halamannya, Rasunda (Solna), sebelum bergabung dengan raksasa Skandinavia,AIK.
Debut seniornya bersama AIK terjadi pada tahun 2020, saat usianya masih 17 tahun. Tiga tahun kemudian, ia direkrut oleh klub Liga Premier InggrisBrighton & Hove Albion,dan pada tahun yang sama, ia memulai debutnya bersama tim nasional Swedia.