POSMETRO MEDAN,Asahan— Aksi damai 17 kelompok tani se-Kabupaten Asahan yang menuntut penyelesaian konflik agraria dengan PT BSP di Kecamatan Simpang Empat, Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, berujung kerusuhan pada Rabu, 13 Agustus 2026 sekitar pukul 12.46 WIB.
Diduga, oknum sekuriti perusahaan melempari massa dengan batu, melepaskan anjing, dan melakukan intimidasi. Akibatnya, lima warga mengalami luka-luka dan dua unit mobil rusak parah.
Kronologi kejadian bermula saat massa dari 17 kelompok tani menggelar aksi menuntut hak atas tanah. Menurut laporan, aksi tersebut kemudian dihadang oleh oknum securiti PT BSP dengan cara anarkis.
Mereka diduga melempari massa secara bertubi-tubi, melepaskan anjing untuk menghalau petani, serta menghancurkan kendaraan milik warga.
Korban tercatat lima orang mengalami luka akibat lemparan batu. Dua unit mobil roda empat juga rusak berat karena dihantam batu. Salah satu korban adalah wartawan yang bertugas di wilayah Asahan, Andre Hasibuan.
Saat meliput aksi dia diduga diserang. Hidungnya robek dan berdarah hingga harus dibalut. Pimpinan umum media tempat korban bertugas, Elizaro Lase, mengecam keras peristiwa tersebut. Ia menyebut tindakan itu sebagai kejahatan terhadap rakyat, bukan pengamanan.
"Saya gemes! Petani menuntut hak, kok malah dipukuli, dilempar batu, dikejar anjing?!" ujar Elizaro Lase.
Ia meminta Kapolres Asahan segera menangkap oknum sekuriti PT BSP yang diduga melakukan kekerasan, serta menjerat mereka dengan Pasal 170 KUHP tentang kekerasan bersama-sama dan Pasal 351 KUHP, tentang penganiayaan.
Direksi PT BSP juga diminta diperiksa untuk mengetahui apakah tindakan itu merupakan perintah perusahaan.