Tim PKM Unimed Dampingi Guru SMP Labuhanbatu Utara Terapkan Pembelajaran Berbasis AI Berorientasi TKA

Evi Tanjung - Rabu, 16 September 2026 14:53 WIB
ist
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Medan (Unimed) mendampingi guru-guru SMP di Kabupaten Labuhanbatu Utara untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih adaptif dan berorientasi pada penguatan kompetensi Tes Kemampuan Akademik (TKA).

POSMETRO MEDAN, Labuhanbatu Utara — Setiap siswa datang ke kelas dengan kemampuan, kecepatan belajar, dan kebutuhan yang tidak selalu sama. Berangkat dari kenyataan inilah Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Medan (Unimed) mendampingi guru-guru SMP di Kabupaten Labuhanbatu Utara untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih adaptif dan berorientasi pada penguatan kompetensi Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Kegiatan ini menjadi bagian dari PkM Skema Kebijakan Tahun 2026 yang menempatkan ruang kelas sebagai tempat utama untuk membangun kemampuan akademik siswa, bukan semata-mata melalui latihan soal, tetapi melalui proses belajar yang memberi perhatian pada cara siswa memahami, bernalar, dan memecahkan masalah.

Program diketuai oleh Dr. Abil Mansyur, S.Si., M.Si., bersama Dr. Muliawan Firdaus, S.Pd., M.Si., Dr. Elmanani Simamora, M.Si., Dr. Tiur Malasari Siregar, S.Pd., M.Si., dan Budi Halomoan Siregar, S.Pd., M.Sc. Pelaksanaannya juga melibatkan dosen pendamping dan mahasiswa yang bekerja bersama guru di sekolah mitra. Pendampingan dilakukan di Pesantren Arkanudin, SMP Negeri 3 Kualuh Hulu Londut, SMP Negeri 2 Kualuh Hulu Sono Martani, SMP Negeri 5 Sialang Taji, dan SMP Negeri 4 Kualuh Selatan Simangalami. Sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan, tim terlebih dahulu melakukan observasi dan diskusi bersama sekolah agar rancangan kegiatan dapat disesuaikan dengan karakter pembelajaran dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

Kegiatan kemudian dilaksanakan dalam dua tahap. Praktik Baik I dan Praktik Baik II . Pola dua tahap ini dirancang agar guru tidak hanya menerima penjelasan mengenai pembelajaran adaptif, tetapi mengalami sendiri proses belajar profesional: melihat contoh, mengamati bagaimana keputusan pembelajaran dibuat, mencoba menerapkannya di kelas, lalu mendiskusikan kembali hasilnya bersama dosen pendamping.

Pada Praktik Baik I, dosen pendamping masuk ke kelas sebagai role model. Guru mengamati bagaimana pembelajaran dimulai melalui apersepsi dan pertanyaan pemantik, kemudian memperhatikan respons siswa untuk mengetahui kesiapan mereka dalam mengikuti pembelajaran. Perhatian tidak hanya diarahkan pada benar atau salahnya jawaban siswa. Cara siswa menjelaskan pemikiran, memilih strategi, berdiskusi, menggunakan informasi, dan menyelesaikan masalah juga menjadi bagian penting dari proses belajar. Dari situ, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kebutuhan siswa dan menentukan bentuk dukungan yang paling sesuai selama pembelajaran berlangsung.

Prinsip adaptif kemudian terlihat dari bagaimana siswa memperoleh dukungan belajar. Siswa yang masih membutuhkan penguatan dapat memperoleh pertanyaan pengarah, contoh, atau scaffolding yang lebih terstruktur, sedangkan siswa yang sudah menunjukkan penguasaan yang lebih baik diberikan aktivitas pengayaan dan tantangan yang lebih tinggi. Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk memberi label kepada siswa berdasarkan kemampuan, melainkan untuk memastikan bahwa setiap siswa memperoleh kesempatan berkembang dari titik belajarnya masing-masing. Orientasi terhadap TKA pun ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yaitu memperkuat kemampuan memahami informasi, menerapkan konsep, melakukan analisis, bernalar, dan memecahkan masalah.

Pada Praktik Baik II, peran mulai bergeser. Guru yang sebelumnya lebih banyak mengamati kemudian menjadi pelaksana utama pembelajaran, sedangkan dosen mengambil posisi sebagai pendamping dan pengamat. Guru mulai membawa hasil pengamatan dan asesmen ke dalam keputusan-keputusan yang dibuat selama proses belajar. Ketika menemukan siswa yang membutuhkan bantuan, guru memberikan penguatan; ketika siswa menunjukkan perkembangan yang lebih baik, guru memberikan tantangan berikutnya. Diskusi kelas, LKPD, pekerjaan siswa, pertanyaan yang muncul, dan cara siswa memberikan alasan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran.

Teknologi Artificial Intelligence (AI) digunakan secara proporsional sebagai salah satu alat bantu bagi guru, terutama untuk menyiapkan alternatif materi, soal, aktivitas, maupun pengayaan. Namun, teknologi tidak ditempatkan sebagai pusat pembelajaran. Setiap bahan tetap diperiksa dan disesuaikan oleh guru dengan tujuan pembelajaran dan kondisi siswa sebelum digunakan di kelas. Peran utama tetap berada pada guru yang membaca situasi kelas, memahami respons siswa, memilih bentuk bantuan, serta menentukan langkah pembelajaran berikutnya.

Melalui dua tahap Praktik Baik tersebut, guru memperoleh pengalaman yang utuh: melihat contoh, mencoba sendiri, berdiskusi, menerima masukan, lalu memperbaiki praktik pembelajaran. Pengalaman ini diharapkan tidak berhenti ketika program PkM selesai, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari praktik pembelajaran sehari-hari. Pembelajaran adaptif pada akhirnya bukan sekadar metode, melainkan cara memandang siswa sebagai individu yang memiliki kebutuhan belajar beragam dan layak mendapat dukungan yang sesuai.(hum)


Tag:

Berita Terkait

Sumut

Lapas Kelas I Medan Razia Gabungan dan Tes Urine, 220 Peserta Dinyatakan Negatif

Sumut

Sambut HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71, Satlantas Polres Karo Gelar Donor Darah

Sumut

Sat lantas Polres Dairi Sapa Anak TK Kemala Bhayangkari, Kenalkan Tertib Berlalu Lintas Sejak Dini

Sumut

Satresnarkoba Polres Batu Bara Ungkap 2 Kasus Sabu, Amankan 3 Tersangka

Sumut

Polsek Tigapanah Sosialisasi Pencegahan Karhutla dan Pembentukan Warga Peduli Api

Sumut

2 Terduga Pelaku Begal Berkelewang Ditangkap, 2 Rekannya Diburu Polisi