POSMETRO MEDAN-Persoalan minimnya guru disabilitas netra di Sumatera Utara mencuat dalam kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kapasitas Cabang yang digelar Plt Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Sumatera Utara, Selasa (20/10/2026) sore.
14 Dewan Pengurus Cabang (DPC) se-Sumatera Utara ambil bagian dalam kegiatan konsolidasi itu, tiga pengurus cabang lain berhalangan hadir.
Ketua Umum, Setiawan Gema Budi, S.Pd., M.Pd yang hadir mengatakan latar belakang kegiatan ini menegaskan bahwa kegiatan pembinaan ini adalah mandat penting dari Pelaksana Tugas DPD untuk menjaga stabilisasi organisasi.
"Kegiatan hari ini berlatar belakang dari pelaksana tugas dewan pengurus daerah Pertuni di mana PLT ini bertugas untuk menjaga stabilisasi organisasi," jelasnya.
Titik poin utamanya adalah peningkatan kapasitas SDM teman-teman DPC di kabupaten/kota agar memahami alur organisasi berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
"Selain itu, ini menjadi pondasi awal supaya mereka mengenal bagaimana latihan kepemimpinan serta manajemen organisasi. Karena kita ketahui bersama, dengan era digital ini teman-teman masih lesu, lemah untuk membaca terkait literasi digital. Hal ini menjadi tantangan," ujarnya.
Ia menekankan bahwa tantangan terbesar Pertuni saat ini adalah minimnya kaderisasi di kalangan anak muda. Padahal, dalam AD/ART Pertuni, keanggotaan tidak mengenal usia, termasuk anggota pemula yang masih duduk di bangku SLB.
"Tolong adik-adik kita yang masih di SLB dilibatkan. Kita ajarkan bagaimana bertumbuh. Hadir untuk semuanya. Berikan ruang kepada mereka untuk berpartisipasi secara bermakna supaya teman-teman muda ini ada wadah," harapnya.
Plt Ketua DPD Pertuni Sumut, Linda Wati, menjelaskan bahwa kegiatan tatap muka ini adalah tindak lanjut yang harus dilakukan karena pembinaan online sebelumnya kurang menggugah.
"Hari ini kita melakukan pembinaan dan peningkatan kapasitas cabang, lanjutan dari yang sudah kami lakukan sebelumnya secara online. Cuma kami rasa ini kurang optimal sehingga kami membutuhkan pertemuan langsung. Kebetulan juga ada bantuan dari orang baik hati, gayung bersambut, terjadilah kegiatan ini," ujar Linda.