POSMETRO MEDAN,Kualanamu– Proses tender proyek Penyediaan Jasa Tenaga Kerja Outsourcing Fungsi Pengamanan dan Airport Rescue & Fire Fighting di Bandara Internasional Kualanamu (KNIA), yang dilaksanakan oleh PT Angkasa Pura Aviasi (AP Aviasi), menuai kontroversi setelah diduga dibatalkan secara sepihak.
Pembatalan itu memicu protes keras dari PT Duta Agung Group, perusahaan yang sebelumnya dinyatakan sebagai pemenang tender. Pihak Duta Agung menilai keputusan tersebut sarat kejanggalan dan patut diduga ada "main mata" antara AP Aviasi dengan PT IAS Support, anak perusahaan dari PT Integrasi Aviasi Solusi (IAS) yang merupakan bagian dari grup Injourney.
Berdasarkan hasil investigasi internal, proyek pengamanan di KNIA selama ini disebut-sebut kerap dimenangkan oleh PT IAS Support. Namun, belakangan muncul dugaan bahwa IAS Support belum memiliki Surat Izin Operasional (SIO) Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP) yang sah dari Ditbinmas Polda Sumut.
Meski demikian, AP Aviasi diduga tetap menggunakan jasa perusahaan tersebut lantaran masih berada dalam lingkup "plat merah". Dugaan ini menguat setelah IAS Support dikabarkan baru mengurus izin operasional BUJP ketika sudah dinyatakan gugur dalam tender Avsec KNIA.
Anehnya, di tengah proses pengurusan izin tersebut, AP Aviasi justru membatalkan hasil tender yang sebelumnya sudah dimenangkan PT Duta Agung Group.
Direktur PT Duta Agung Group, Sukdeep Ibrahim Shah, menyatakan kekecewaannya atas pembatalan hasil tender yang disebut tidak transparan.
"Awalnya hasil tender ditunda hampir empat bulan, kemudian tiba-tiba dibatalkan dengan alasan penawaran sudah kedaluwarsa. Padahal hanya satu perusahaan yang lolos kualifikasi, yaitu kami," ujar Sukdeep, Kamis (6/11/2025).
Ia menegaskan, alasan kedaluwarsa tidak masuk akal karena keterlambatan justru disebabkan oleh pihak AP Aviasi yang menunda pengumuman hasil tender.
"Kami menduga kuat pembatalan ini untuk memuluskan langkah IAS Support yang sedang mengurus izin BUJP di Polda Sumut," tambahnya.