POSMETRO MEDAN, Medan - Banjir bandang yang menggulung wilayah Sumatera Utara baru-baru ini bukan sekadar cerita duka musiman. Sungai tak hanya membawa air; ia menyeret gelondongan raksasa, batang-batang hutan yang tercerabut dari akar moral pengelolanya.
Ribuan meter kubik kayu liar itu menumpuk di kampung-kampung, seperti bukti telanjang dari sebuah kejahatan yang selama ini dibungkus rapi dengan izin, tanda tangan, dan diamnya para pengawas.
Kementerian Kehutanan buru-buru merilis pernyataan defensif,
"Itu berasal dari pohon lapuk dan kemungkinan dari luar kawasan hutan."
Jawaban yang terasa seperti membuang badan, lebih mirip tameng ketimbang klarifikasi.
Namun lapangan berbicara lebih keras daripada siaran pers.
Warga melihat batang-batang utuh, segar, dan gelondongan berskala industri.
Tak satu pun terlihat lapuk. Dan ketika kayu-kayu itu menumpuk di depan mata, sulit untuk tidak bertanya, siapa yang selama ini membiarkan?
DPRD Sumut Turun Suara "Alam Sedang Mengoreksi Kita,"ungkapnya melalui pesan melalui WhatsApp singkat.
Ketua Bapemperda DPRD Sumut, Darma Putra Rangkuti, akhirnya angkat bicara dengan nada yang jarang muncul dari pejabat daerah.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u261987868/domains/posmetromedan.id/public_html/amp/detail.php on line
259