POSMETRO MEDAN, Medan -
Bencana selalu datang membawa lebih dari sekadar kerusakan fisik. Ia memutus jalan, merendam rumah, dan pada saat yang sama memisahkan manusia dari satu sama lain. Dalam situasi seperti itu, jaringan komunikasi tidak lagi sekadar fasilitas penunjang, melainkan bagian dari denyut kehidupan sehari-hari-alat untuk berkabar, mengoordinasikan bantuan, dan menjaga harapan agar tetap menyala.
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa pekan terakhir menempatkan kebutuhan tersebut pada posisi paling mendesak. Di Aceh, khususnya wilayah yang terdampak cukup parah, konektivitas menjadi isu yang tak terpisahkan dari proses pemulihan.
Telkomsel mencatat kemajuan dalam upaya normalisasi jaringan telekomunikasi di Provinsi Aceh. Hingga akhir Desember, perusahaan ini menyebut lebih dari 90 persen jaringan di Aceh telah kembali beroperasi, termasuk di wilayah terdampak seperti Kabupaten Aceh Tamiang. Angka ini menjadi penanda bahwa koneksi perlahan kembali terhubung, meski realitas di lapangan menunjukkan proses tersebut berjalan bertahap dan tidak seragam.
Bagi Telkomsel, pemulihan jaringan tidak hanya dipahami sebagai pekerjaan teknis. Nugroho A. Wibowo, Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, menyatakan bahwa di balik setiap site yang kembali aktif terdapat kebutuhan sosial yang jauh lebih besar.
"Jaringan bukan sekadar infrastruktur. Di baliknya ada harapan masyarakat untuk kembali berkabar dengan keluarga dan menjalani aktivitas sehari-hari," ujarnya.
Namun, proses tersebut berlangsung di tengah berbagai keterbatasan. Pasokan listrik yang belum sepenuhnya stabil serta akses menuju sejumlah titik terdampak masih menjadi tantangan utama. Karena itu, pemulihan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keselamatan petugas dan keberlanjutan layanan.
Pemulihan yang Bertahap dan Berlapis