POSMETROMEDAN, Medan -Pagi itu, jalan belum benar-benar jalan. Ia lebih mirip ingatan yang dipaksa disambung kembali retak, berlumpur, dan berdebu. Mobil yang membawa rombongan kecil dari Sumatera Utara bergerak pelan, seolah takut melukai bumi yang belum sembuh. Di kanan kiri, rumah-rumah berdiri seperti orang yang baru selamat dari karam, miring, kusam, dengan bekas garis air setinggi di pohon masih jelas membekas di pohon itu.
Di kursi depan, Yahdi Khoir Harahap, Ketua Fraksi PAN DPRD Sumatera Utara (Sumut), lebih banyak diam. Mata tak lepas dari jendela, menyusuri setiap puing, setiap jembatan darurat yang tak bisa dilalui, setiap jejak lumpur yang mengering seperti luka yang belum sempat diberi salep.
Ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan menembus kesedihan orang-orang yang tak pernah ia temui sebelumnya, namun nasibnya kini ikut ia pikul.
Jalan Panjang Menuju Luka yang Sunyi
Perjalanan menuju Desa Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, Aceh itu ditempuh pada 25-27 Januari 2026.
Rombongan berangkat atas perintah dari pusat agar turun ke lokasi dengan fana pribadi perjalanan mulai dari Indrapura, Batubara, sejak pagi buta, menyusuri tol, jalan lintas, hingga jalur pegunungan yang berliku.
Memasuki wilayah Aceh Tamiang, pemandangan berubah menjadi kesaksian bisu. Lumpur yang disingkirkan menumpuk di tepi jalan seperti duka yang disapu ke pinggir hati.
Ruko-ruko masih kotor, sekolah dan masjid tampak kusam, dan di beberapa sudut kota, ibu-ibu serta anak-anak berdiri menunggu bantuan datang.
Mereka tak meminta dengan suara cukup dengan tatapan.
Rombongan berhenti, menyelipkan uang ke kotak-kotak kardus itu. Tak banyak, tapi cukup untuk berkata, "Kami melihat kalian."