Debu, Kartu BPJS, dan Sekolah yang Ditunggu: Catatan Reses dari Labuhan Batu Raya

Evi Tanjung - Selasa, 10 Februari 2026 20:02 WIB
ist
Anggota DPRD Sumut dari Fraksi PKB Zeira Salim Ritonga reses di Labuhan Batu Raya

POSMETROMEDAN, Labuhanbatu -Pagi belum sepenuhnya terang ketika seorang ibu di Desa Aek Kuo menggendong anaknya ke atas sepeda motor. Jalan di depan rumahnya masih sama seperti puluhan tahun lalu tanah bercampur batu, berlubang, dan licin bila hujan turun malam sebelumnya. Ia tahu jarak ke puskesmas tak seberapa jauh, tapi jalan itu selalu membuatnya ragu, berangkat sekarang atau menunggu anaknya sedikit membaik.

Jalan di Aek Kuo bukan sekadar penghubung antardesa. Ia adalah batas antara kebutuhan dan kemampuan.

Di atas jalan itu, warga menakar risiko, sepatu anak sekolah yang basah, hasil panen yang menyusut karena ongkos angkut, dan rasa takut jatuh sakit di tempat yang terasa jauh dari pertolongan.

Dalam masa resesnya di Labuhan Batu Raya, Zeira Salim Ritonga dari Fraksi PKB mendengar cerita-cerita semacam itu berulang kali. Jalan yang melintasi kawasan perkebunan, berada dalam kewenangan kabupaten, sudah puluhan tahun tak pernah diaspal. Semua orang tahu.

Semua pihak paham. Namun waktu berjalan, dan jalan itu tetap sama seolah terbiasa ditinggalkan.

Di ruang tamu warga, obrolan sering berbelok pada kesehatan.

Tentang kartu BPJS yang tak lagi aktif. Tentang loket rumah sakit yang terasa menakutkan karena takut ditolak. Banyak warga tak tahu kapan dan mengapa kepesertaan mereka berubah. Mereka hanya tahu satu hal, sakit kini terasa lebih mahal dari sebelumnya.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menjalankan program Universal Health Coverage sejak 2025, membuka akses berobat hanya dengan KTP. Program ini memberi harapan baru. Tetapi harapan, di desa, tidak selalu datang bersamaan dengan informasi. Sebagian warga masih ragu, sebagian lain memilih bertahan di rumah saat sakit datang lebih karena takut dipermalukan daripada karena tak ingin sembuh.

Di sudut lain desa, orang tua memikirkan sekolah anaknya. Sekolah menengah atas negeri gratis terdengar seperti kabar baik yang lama dinanti. Namun di Labuhan Batu Raya, kebijakan itu belum sepenuhnya dirasakan.

Ada daerah yang sudah berjalan, ada yang masih menunggu. Sementara waktu terus bergerak, dan biaya pendidikan tetap harus dibayar.



Tag:

Berita Terkait

Sumut

Polsek Panai Tengah Akhirnya Grebek Sarang Narkoba di Teluk Sentosa

Sumut

Rumah Manager PKS PTPN IV PalmCo Regional II Perkebunan Ajamu Dilempar OTK

Sumut

Diduga Izin Pengolahan Air Limbah PMKS PT SUJ Telah Kadaluwarsa

Sumut

Peredaran Sabu di Wilkum Polsek Bilah Hilir Diduga Masih Merajalela

Sumut

Bawa 26 Kg Ganja, Pelaku Narkotika Ditangkap Usai Coba Kabur dari Polisi

Sumut

Polisi Diminta Sidak Pengecer yang Jual Pertalite Diatas Harga HET